Selasa, 10 Maret 2009

Kenapa Ayam Menyeberang Jalan?

Jawaban:

  • GURU TK: Supaya sampai ke ujung jalan
  • GURU LIA: According to Dr. Howard Gardner, chickens have bodily-kinesthetic intelligence. They have the gift of physical movement of the muscles. They like to move and cannot sit still for a long period of time.
  • PLATO: Untuk mencari tempat yang lebih baik
  • SUPIR BAJAJ: Hanya Tuhan yang tahu
  • POLISI: Biar saya interogasi dulu
  • MARTIN LUTHER KING, JR : saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua ayam menyebrang jalan tanpa mempertanyakan kenapa
  • GEORGE W.BUSH : kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! Kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami. Tidak ada pihak tengah di sini!
  • DARWIN: Ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.
  • EINSTEIN: Apakah ayam itu meyebrang jalan atau jalan yang bergerak di bawah ayam itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri
  • NELSON MANDELA : Tidak akan pernah lagi ayam yang harus ditanyai kenapa menyeberang jalan! Dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati


Nah ayamnya aja gak pernah tanya-tanya kalo elu nyebrang, kenapa jadi elu yang pada rese?!!!

Menurut lohhh?

LOSING VIRGINITY

Sepasang anak manusia bernama Ovy dan Teeje.. semalam melakukannya untuk yang pertama kali...

Sepulang dari kantor Mas Wahyu, kami bertiga (Ovy, Teeje dan saya) mampir ke LIA Pramuka karena saya harus mengambil buku penting yang tertinggal. Perjalanan pulang kami dihiasi kemacetan yang aduhai dan hujan yang mengguyur. Diskusi mendalam tentang topik-topik serius membuat kepala makin pening. TJ mengajak bukber di Citos, Ovy mengajak bukber di tempat lesehan. Apa daya, lutut renta saya tidak mau diajak kompromi. Akhirnya saya putuskan untuk menggiring mereka mampir ke tempat terdekat: Pempek Pak Raden di jalan raya Pasar Minggu.

Pelayanannya memuaskan,
WC-nya lumayan,
tempat parkirnya aman,
tempat sholatnya nyaman,
TV bisa menangkap siaran,
kipas angin berputar pelan,

dan yang paling penting... untuk pertamakalinya dalam hidup mereka, Ovy dan TJ mencicipi sebuah kenikmatan duniawi tiada tara dari hidangan lezat bernama "tekwan."

Kamis, 05 Maret 2009

KOPIKO BROWN COFFEE


Tadi malam di ruang guru LIA Pasar Minggu, saya baru tahu bahwa Kopiko bukan hanya 'gantinya ngopi' tapi sudah mengejawantah menjadi kopi itu sendiri. Di saat istirahat mengajar, rekan guru bernama Nurhatmawati sekonyong-konyong menawari saya satu sachet Kopiko brown coffee. Saya baru dengar istilah brown coffee, ternyata itu hanya kopi dicampur gula merah. Ah, itu sih saya sudah sering minum.

Bukan sulap bukan sihir, setelah saya seduh dan seruput ternyata rasanya endos gandos. Tidak kalah dengan kopi di kedai-kedai mahal. Creamy-legit gimanaaa gitu. Cobalah dan rasakan.

(Tulisan ini dibuat tanpa tekanan atau perintah dari pihak manapun.)