Lapak-Lapak Simfoni Satwa

0 comments
Album lagu anak Simfoni Satwa dapat dipesan melalui:
  1. Pensil Sket (terutama wilayah Tangerang dan sekitarnya), CP: Ruslan Leo 0819-0602-0971
  2. Ronaldi Ozan, http://www.facebook.com/ronaldi.ozan?fref=ts
  3. Nusantara Niaga, Jl. Tenggiri No.32, Rawamangun, Jakarta Timur 13220, http://www.nusantaraniaga.com/, 021-4786-9793, CP: Ipen 0812-8868-6474



Be a Smart Blogger: Kolaborasi Cantik Sariayu, Elzatta dan Majalah Noor

2 comments
Saya sedang rindu ikut workshop tapi belum punya cukup energi untuk mengerjakan PR yang serius dan berat *penulis malas.*  Karenanya begitu Mbak Ade Nursaadah dari Majalah Noor mengiklankan  workshop Be a Smart Blogger, saya langsung daftar.  Otak lelah saya langsung membayangkan acara seru berlimpah hadiah, karena Majalah Noor menggandeng Sariayu dan Elzatta Hijab. *tuing*   
ganbatte!
     
Tiba di lokasi, saya langsung disambut goodie bagYes!  Langsung tampak senyum manis para peserta: sebagian adalah teman penulis yang sudah saya kenal, dan sebagian lainnya belum pernah saya jumpai sebelumnya.  Mereka tampak siap tempur dengan laptop masing-masing.  Saya sempat GR, mengira panitia menyediakan laptop untuk setiap peserta.  Ternyata benda mirip laptop itu make-up kit untuk kami gunakan di sesi beauty class. *pletak*   

tepuk-tepuk wajah
Sebelum acara dimulai, kami dipersilakan menicicipi kopi gurih nan harum, serta pastel gurih dan bolu marmer berhias cokelat yang langsung menggoyang lidah.  Halo-o.  Ini mau belajar atau piknik ya? 

Acara dibuka dengan sambutan Pemred Noor, dilanjutkan dengan presentasi komprehensif Dewi Theresia—make up artist yang pernah merias bapak negara—tentang tiga hal:  Sariayu, DR.Hc Martha Tilaar selaku pendiri grup Martina Berto Tbk, dan tips merawat wajah.   
produk Sariayu yang tepat untuk wajah Anda
   Topik yang terakhir langsung diikuti praktik. Suatu hiburan tersendiri melihat tingkah polah para peserta mengikuti langkah-langkah perawatan kecantikan sambil sibuk berpose dan jepret sana-sini lalu langsung unggah foto ke Twitter dan Facebook.  Kami melewati sesi ini sambil bercanda ria.
   
Setelah itu ada pembacaan puisi dan bincang singkat bersama Ratih Sang.  Puisi pertama berbicara tentang bertahan dalam kelelahan, puisi kedua tentang seorang anak yang mengidolakan ibunya, dan puisi ketiga tentang rasa bersalah yang mendera hati ibu bekerja.  Dalam bincang singkatnya Ratih Sang menguatkan sesama ibu bekerja, bahwa Allah melalui para malaikat-Nya akan menjaga anak-anak yang ditinggalkan di rumah atas nama perjuangan mencari nafkah.

Sesi terakhir yang merupakan acara puncak adalah lokakarya penulisan laman oleh Indah Juli Sibarani dan Benny Rhamdani.  Ah, pantas saja orang malas mampir ke blog saya.  Ternyata banyak sekali kesalahan yang sudah saya lakukan dalam menulis dan mengelola laman selama ini *tutup muka.*  

Ah, hari yang menyenangkan...

Marigold Girl School Series

0 comments

     Marigold itu apa, sih? Marigold adalah sebuah sekolah khusus untuk anak perempuan. Sekolahnya besar dengan berbagai fasilitas memadai untuk berprestasi, juga asrama bagi yang ingin coba hidup mandiri. Beragam anak bersekolah di sini. Mulai dari yang baik hati sampai yang belum bisa santun terhadap orang lain. Ada yang hidupnya sederhana, ada juga yang tinggal di rumah mewah dan punya pelayan pribadi yang selalu siap siaga.
     Kehidupan anak-anak yang bersekolah di Marigold itulah yang diangkat ke dalam novel seri Marigold Girl School. Setiap buku mengangkat satu tokoh anak yang bersekolah di Marigold Girl School. Jadi tiap novel akan menyajikan cerita yang berbeda-beda. Satu buku dengan buku lainnya tidak bersambung atau tidak terkait secara langsung. Persamaannya hanyalah para tokoh bersekolah di Marigold Girl School dan semua tokoh berjuang untuk masa depan mereka, sekitarnya, dan Indonesia yang lebih baik.
     Perbedaan lain antara seri Marigold Girl School dan seri Penulis Cilik Punya Karya adalah penulisnya. Novel seri Marigold Girl School ditulis oleh kakak-kakak yang sudah dewasa. Sebagian besar dari mereka sudah menerbitkan beberapa buku anak selain novel Marigold Girl School. Buku-buku seri Penulis Cilik Punya karya umumnya ditulis oleh anak-anak berusia maksimal 14 tahun atau belum genap berusia 15 tahun. Kisah-kisah Marigold Girl School menceritakan keseharian anak-anak sekolah. Pembaca tidak akan menemukan cerita fantasi, sihir, atau cerita imajinasi seperti di buku-buku PCPK.

     Sampai saat ini, Marigold Girl School sudah terbit sebanyak 5 buku:

Melodi Seruni

0 comments
Penulis:  Ratih Soe
Penerbit:  Noura Books

     Pilih jadi penulis atau komposer, ya?  Hmmm … Seruni, sih, mau dua-duanya. Tapi Ibu menentang habis-habisan hobi Seruni dalam bermusik. Ya sudah, Seruni melakukannya diam-diam. Malah ikut lomba cipta lagu saat sedang ujian di sekolah. Terang saja nilai-nilai Seruni jeblok semua.  Aduh, gawat!
      Dan Seruni pun harus menerima hukumannya, ia dilarang main musik, dan perkusinya dikunci di gudang!  Bagaimana, ya, sedihnya Seruni melewati hukumannya?  Berhasilkah Seruni menggapai impiannya satu panggung dengan komposer terkenal Iwang Noorsaid?  Kenapa gigi Sali copot?  Kenapa Dena dan Tiara harus menyanyi di dalam air?  Baca kisah lengkapnya, yuk!  Dapatkan langsung di toko buku, beli online di sini atau di sini

ORISINALITAS DAN KESEMPURNAAN DALAM PENULISAN LAGU

0 comments
Pernahkah Anda merasa kecewa karena dianggap memplagiat lagu orang lain?  Sebagaimana pernah saya sebutkan, melodi adalah rangkaian ritme dan titi nada.  Maka melodi bisa dianalogikan dengan deretan angka yang dicetak dengan ukuran dan ketebalan font yang berbeda-beda.  Dengan demikian tentu kesamaan pola antara satu melodi dengan yang lain adalah hal yang sangat mungkin terjadi.

Namun demikian, sebagai pekerja kreatif kita harus berjuang maksimal atas nama kesempurnaan karya.  Kita tidak boleh menutup mata terhadap kemungkinan tidak orisinalnya karya kita.  Bagaimana caranya?

Free Flashcards & Printables

         Go to ESL Flashcards and you can download 100's of free flash cards. Every set of flashcards comes in color and 3 different sizes to make teaching easier:
  • The Big set is great for vocabulary presentation
  • The Medium set is good for teaching small groups of students and playing language learning games
  • The Small sets of pictures are great for ESL games such as Down-Pass or Go Fish. 
          You can use the flashcards for teaching English, Spanish, Chinese or whatever language your students are studying. Best of all, they're all FREE! Currently there are 968 total images and 2904 total flashcards. Enjoy!

Clothes Flashcards 
Stop bringing your wardrobe to class to show your students. Use these 32 flashcards.
Colors Flashcards (Set A) 
12 Easy to identify color flashcards. Great for playing games and learning colors at the same time.
Colors Flashcards (Set B) 
Sets of pictures with the same color. Good for practicing plurals and colors.
Daily Activities Flashcards (Set A) 
A set of common daily activities for children. Just print and learn!
Daily Activities Flashcards (Set B) 
A set of common daily activity flashcards. These daily activity pictures are very easy to understand.

#WritingCampBintan - Funtastrip!



Yuk, yuk, ikutan!

Writing Camp Bintan adalah program liburan sekaligus workshop menulis!
Selain menikmati dan menyusuri eksotisme Pulau Bintan,
kita juga akan dibawa sekalian untuk exploring Singapura!
Wohooo ... jadikan liburan kamu kali ini lebih asyik dan penuh ilmu.

Untuk detil acara dan biaya, silakan drop email kamu ke veni@funtastrip.com
atau isi form di http://bit.ly/Ljg7RO

An Interview with Roald Dahl

7433-roald-dahl-187011

Taken from: http://clubs-kids.scholastic.co.uk/clubs_content/1491 

Roald Dahl is probably the best loved children's author ever!  He's also a 2012 World Book Day author.    He has won many awards for his books including the Whitbread Award for The Witches in 1983, the Smarties Award in 1990 for Esio Trot and the Blue Peter prize forMatilda in 2000. In 2008 the Roald Dahl estate launched an award in his name – the Roald Dahl Funny Prize.


What’s it like writing a book?
When you’re writing it’s rather like going on a very long walk, across valleys and mountains and things, and you get the first view of what you see and you write it down. Then you walk a bit further, maybe up on to the top of a hill, and you see something else, then you write that and you go on like that, day after day, getting different views of the same landscape. The highest mountain on the walk is obviously the end of the book because it’s got to be the best view of all, when everything comes together and you can look back and see everything you’ve done all ties up. But it’s a very, very long slow process.

The Writing of LIA's Textbooks

     After all the subsidies from USIS ceased, LIA was completely on its own.  There was the difficulty of getting coursebooks from the US in such large numbers on time to distribute them to the students.  At the time, there was also the rise of Communicative Language Teaching as the current methodology being used in language courses in the US and other countries where the demand for English as a tool for communication was growing.
     With the prompting and support of then Executive Director Suryodipuro, the Teaching Section took the courageous step of writing LIA's own textbooks.  Intitiated by Gloria Kismadi, Siti Soeriyah, and Maya Jayapal, the writing of the textbooks also involved teachers who had the writing ability and imagination combined with a good grounding in language teaching principles.  Thus, LIA's Communication in English series, based on Communicative Language Teaching principles in contexts in which Indonesians would need to use the language, came into existence.  The series not only covered primary to intermediate levels of language learning but also Post-Intermediate and Advanced levels.
     This was the start of the creation of a Materials Writing Team under the leadership of Siti Soeriyah, and later, Anneke Senduk.  Since that time, promising writers have been recruited to write coursebooks needed by LIA, always with a view to looking at current language teaching theories and incorporating them into classroom materials.
     After all the progress and manifold achievements through painstaking journey and endless hardwork, isn't it an irony that we now decide to use imported books?

POSTING TERPOPULER: