Friday, September 9, 2016

Pasien Yang Dibangunkan

    Seorang perempuan datang ke dokter gigi. Setelah sekian menit giginya dibor, dokter gigi berteriak, "Bu, bangun!"
    "Hah? Siapa? Kenapa? Ada tamu ya?" 
    "Bu! Masa giginya lagi dibor bisa ketiduran sih? Orang lain tuh kesakitan, aduh-aduh gitu. Ini kok malah tidur?!"
    "Wah, maaf dok. Dokter ngebornya kurang power berarti."
    "Bu, tolong jangan becanda. Bahaya Bu, kalo giginya lagi dibor jangan tidur. Nanti bibirnya bisa cidera."
    Si dokter minta agar pasiennya membuka mata lebar-lebar, tidak boleh tidur! Si pasien terpaksa patuh. Disandarkannya kembali kepalanya ke jok yang empuk sambil (terpaksa) memandang lekat wajah si dokter. Musik lembut yang lirih mulai membuai telinganya. Sial! Dia tidak bisa menahan kantuknya. Dia begadang semalaman merevisi naskah. 
    Ah, jika mulutnya tidak dipenuhi besi-besi sialan ini, dia pasti sudah berkomentar banyak, dari A sampai Z, "Dokter, habis makan ikan ya? Dok, eye shadownya merek Kuda Terbang ya? Dok, kerudungnya boleh ngambil dari jemuran ibu saya ya? Dok, itu kacamatanya... Kacamatanya... Kacamatanya..."
    Zzzzz...
    Perempuan gila itu kembali jatuh tertidur. Si dokter emosi. Dia menjerit sambil menepuk-nepuk pipi perempuan itu. "Bu, udah saya bilang jangan tidur!!!"
     

    Yah, itulah gue waktu ke dokter gigi tadi pagi, hahahaaha...

      Mengemas Kenangan

      Menyapu setiap sudut sambil berjalan ke masa silam
      Memunguti sisa-sisa mimpi yang tercecer di sudut-sudut gelap
      Melayangkan pandangan ke wajah-wajah yang menyimpan ceritanya masing-masing
      Menghirup sepenuh paru, aroma persahabatan dan proses pendewasaan diri
      Mencecap setiap rasa yang datang silih berganti
      Meraba jejak-jejak yang bertebaran di sana-sini
      Tidak akan pernah ada habisnya

      Ini saatnya mengemas kenangan
      Dan melanjutkan perjalanan

      Tuesday, October 20, 2015

      Indonesian Folktales: Proses Panjang yang Mendebarkan

      indonesianfolktales.com
            Di awal 2015, sejak ide website ini dicetuskan oleh Benny Rhamdani dan didukung oleh Ali Muakhir, orang-orang yang ditunjuk secara terbuka di Forum Penulis Bacaan Anak terus merapatkan barisan, mengayun langkah bersama. Pertama adalah para penyeleksi naskah: Nurhayati Pujiastuti, Dian Kristiani, Bambang Irwanto, dan Iwok Abqary, lalu para editor: Veronica Widyastuti, Tethy Ezokanzo, Herlina Sitorus, Aan Diha, dan Triani Retno. Para anggota termasuk saya, berbondong-bondong mengirim naskah. Tentu saja kami berharap naskah kami diterima.
           Saya senang sekali ketika saya diminta menerjemahkan naskah saat sedang dalam penantian. Rupanya website ini akan disajikan dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Saya sangat bersemangat karena ini artinya, jika seandainya naskah saya tak lolos audisi, saya tetap akan punya ruang untuk ikut berkontribusi. Alhamdulillah naskah yang saya kirim diterima. Setelah menerima versi revisi dari Editor, saya mulai menerjemahkan naskah saya sendiri, dengan harapan bisa nyolong start dan meninggalkan jati diri lama saya sebagai Si Mepet Tenggat.

      Monday, October 19, 2015

      What's Wrong with the Term "Second Language Writers"?


      It's this very question that requires critical scrutiny. If some people feel there is anything negative or pejorative about it, that means they have implicitly accepted the idea that being an L2 writer is somehow negative. By avoiding the term without challenging the negative perception, people are inadvertently perpetuating the problem.

      It's important to focus on positive aspects of L2 writing and writers, but that cannot be the only thing we do to address the issue. If we ignore the challenges they face, and the need to learn and develop to accomplish their own purposes, or if we simply dismiss other people's negative perceptions and feed them the "correct way" to talk about the issue, we are simply evading the real issue.

      I don't do what I do to feel good about myself. I prefer to face the real challenges, even though other people may not see it as pleasant or fashionable. While some may prefer to gentrify the discourse, someone has to do the real work of understanding the situation as it is and promote that understanding so appropriate responses can be developed. It is this kind of work I choose to engage in.

      I accept second language writers as they are--with all their amazing accomplishments and daunting challenges they face. I am a second language writer. And I'm proud of it.

      Monday, July 6, 2015

      Bahasa Ngapak di atas Pentas


           Bahasa atau dialek menunjukkan identitas bangsa atau suku. Kenyataan bahwa penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda semakin jarang, membuat saya berbahagia melihat anak-anak muda yang aktif berbahasa/dialek daerah di panggung stand up komedi.
           Bahasa Ngapak (dialek Banyumasan) digunakan di wilayah barat Jawa Tengah. Berbeda dengan bahasa Jawa pada umumnya, dalam bahasa ngapak akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o', misalnya: kata lungo (pergi) dilafalkan lunga. Bunyi 'k' di akhir dibaca penuh dan kuat. Orang Jawa pada umumnya melafalkan kata enak dengan ena', sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang sangat jelas.

      Don't Shop Till You Drop


      Read the article. Write T if the statement is true, F if it is false and NC if it is not clear.

              Some people, no matter what their level of income is, view shopping as a hobby. They buy stuff on impulse: they go into a supermarket for detergent, milk, bread, and eggs but come out with a T-shirt and a package of colorful stickers. Such habits may lead these people to lose control and become shopaholics. Shopaholics, or compulsive shoppers, are people who suffer from uncontrolled overspending. They shop when they are feeling emotionally distressed, and use spending as a coping mechanism. Compulsive buying may not sound as scary as drug abuse, drinking or smoking, but if things get out of hand, it could destroy their lives. While compulsive shopping can be destructive for several reasons, it can be controlled and treated.

      Monday, June 29, 2015

      Pekerjaan untuk Ayah Rohma

         Ratih Soe
         Adik-adik, apa pekerjaan orang tua kalian? Kalian bangga kan dengan pekerjaan itu? Sesungguhnya Rohma juga bangga dengan pekerjaan Ayah. Tapi, kenapa ia ingin Ayah cari pekerjaan lain? Temukan jawabannya di cerita ini.