Rabu, 18 Juli 2007

51 ALASAN (51 REASONS)

Penulis: Shinta Harini; penerjemah: Ratih Soe
(versi bahasa Inggris diterbitkan di majalah C'nS, Jakarta;
versi bahasa Indonesia diterbitkan di
Jurnal Cerpen Indonesia edisi 06/2006, Logung Pustaka, Jogjakarta)

“Oh God, I miss her. I miss her so much!”
From behind her clamped hands a soft sob was heard. It was no use, she thought bitterly, despairingly. No matter how hard she pleaded, God would still not budge. And she knew this, for He had all the plans for the universe and they would not alter just because one little angel like her missed somebody and wanted that somebody to be taken to heaven for her own sake.

Frayed breaths still followed and later were replaced by small hitches and soft sighs as the angel got calmer. She took away her tear-soaked hands from her face and slowly put them flatly on the table. Looking around, she felt even more lonely and miserable. God, however, had answered her plea and made her think about why somebody had to remain on Earth. But she was not only to think. God had also asked her to write down the reasons.

Senin, 16 Juli 2007

From The Free Dictionary

Spelling Bee





difficulty level:



score: -
please wait...
spell the word:




Match Up


Match each word in the left column with its synonym on the right. When finished, click Answer to see the results. Good luck!
















 



Hangman
provided by TheFreeDictionary

Word of the Day












Today's Birthday








In the News








Quote of the Day













Sabtu, 14 Juli 2007

LEGAL ENGLISH SUCKS! YUCK!

Sebagai penerjemah lepas di Penerbit Serambi, order yang saya terima tidak berkesinambungan. Kalau sedang laris manis, order datang seperti berondongan senapan mesin. Tapi kalau sedang sepi, wuiiih... (nada suara keras dan tinggai) ya sepi!!! (nada suara datar, sok polos)

Pada suatu hari Minggu yang cerah saya diminta menemani editor saya untuk mempromosikan terjemahan saya yang terakhir "Jack Si Pemberani" (Bloody Jack) karangan L.A. Meyer di Pro2 FM. Karena seumur hidup belum pernah menjadi orang yang diwawancarai, on air pula, jadilah saya gelagapan dan keteteran. Dan entah karena hal itu atau bukan, sejak itu saya lamaaaa tidak mendapat order lagi.

Karena perasaan waswas yang mendobrak logika, saya yang bermental tempe ini lantas berpikir mungkin mereka sudah kapok memakai jasa saya dan atas pertimbangan itulah maka saya bulatkan tekad untuk mengambil kursus Legal Translation di Atma Jaya, dan memberanikan diri untuk ikut ujian tahun ini.

Saya tahu bahwa kita TIDAK BOLEH menyesali apa yang sudah kita putuskan. Oleh karenanya saya BERUSAHA untuk tidak menyesali keputusan saya mengadu nasib di bidang yang satu ini. Hmm...

Tapi aku cuma perempuan biasa dan aku menyesallll!!! Akkuu merasssaaa kottooorrrrrr...

MULAI MENULIS PROSA-FIKSI

Ditulis oleh Sefryana Khairil Bariyah , rekan penulis di kemudian.com

Ada sedikit tips niyhh.. Semoga bermanfaat yah!!Aku membuat tips ini setelah belajar mata kuliah apresiasi prosa-fiksi di kampus.

Sebagai dasar dari penulisan, tentunya kita sebagai seorang penulis harus mempunyai rasa percaya diri, yakinlah kalau apa yang kita hasilkan adalah karya kita yang terbaik. Katakan pada diri kita kalau kita BISA! Mulailah menulis, jelek atau bagus itu urusan belakangan.

Langkah pertama dalam penulisan adalah, kita harus mempunyai ide cerita. Ide cerita tersebut dapat kita dapatkan dari mana saja, dari teman, dari lingkungan dari mana saja! Dari ide cerita tersebut kita kembangkan imajinasi kita. Tanyakan pada diri kita, sebenarnya, apa sih yang kita mau. Dari situlah, kita mulai mendapatkan ide baru untuk memunculkan sebuah konflik.

Kerahkan semua panca indera kita untuk dapat mendeskripsikan apa yang kita bayangkan. Contoh: angin berhembus lembut, mengelus kulit…

Kita harus menghubungkan sebab dan akibat yang terjadi pada setiap peristiwa yang terjadi. Bentuk lain deskripsi ini disebut deskripsi ekpositori. Deskripsi ini bukan hanya ‘apa’ tapi ‘bagaimana’ sesuatu itu terjadi. Setiap hal yang mengiringi sesuatu yang dicermati, juga perlu di cermati. Lalu hubungkan dengan sebab dan akibatnya sehingga membentuk sebuah peristiwa.

Ada tiga fungsi flashback, yaitu trigger of action maksudnya yang berperan adalah tindakan tokoh setelah mengalami flashback. Kedua, reason of action maksudnya flashback muncul di bagian akhir cerita sebagai penjelas tindakan si tokoh sebelum flashback muncul. Ketiga, flash back muncul sebagai bumbu cerita. Artinya flashback muncul sekali-sekali ditengah-tengah action yang tengah berjalan.

Banyak yang bertanya tentang apa alur dan plot dan samakah keduanya? Jawabannya, berbeda. Alur merupakan batang tubuh cerita yang bergerak lurus, sedangkan plot adalah penggeraknya. Alur berjenis maju, mundur atau campuran sedangkan plot dari awal, konflik, penyelesaian sampai klimaks.

Semoga membantu.. Keep writing, friends!!

Jumat, 13 Juli 2007

FILM TERAKHIR

Dah lamaaaaaaa banget gue gak nonton DVD. Trakhir yang gw tonton judulnya Music And Lyrics. Yang maen Drew Barrymore ama Hugh Grant. Ringan dan menghibur. Bagian yang paling gue suka adalah waktu mereka kolaborasi nyiptain lagu. Seru. Seneng aja liat proses kreatif yang begitu sungsang sumbel.

Kenapa seru? Asal tau aja, nulis bareng is really not that easy secara yang ada malah tarik urat plus adu otot, atau... saling menghindar dan mendiamkan karena ego dua (atau lebih) pencipta terpaksa disingkirkan. Hahahahh, curhat colongan!

Lagunya juga gue suka. Nyanyi yuks?

I’ve been living with a shadow overhead
I’ve been sleeping with a cloud above my bed
I’ve been lonely for so long
Trapped in the past,
I just can’t seem to move on
I’ve been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need em again someday
I’ve been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind
All I want to do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
Oh oh oh

I’ve been watching but the stars refuse to shine
I’ve been searching but I just don’t see the signs
I know that it’s out there
There’s got to be something for my soul somewhere
I’ve been looking for someone to shed some light
Not just somebody just to get me through the night
I could use some direction
And I’m open to your suggestions
All I want to do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end
There are moments when I don’t know if it’s real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration not just another negotiation
All I want to do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart to youI’m hoping you’ll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I’ll be there for you in the end

KEPADA TAUFIK SAVALAS

Ratih S. Jatmiko

Kau pergi meninggalkan orang-orang tercinta
Dan orang-orang yang memorinya diisi setumpuk kenangan jenaka tentangmu
Termasuk aku

Di titik yang sama di Purworejo dua belas tahun yang lalu
Aku dan keluargaku hampir mengalami apa yang kau alami, Taufik
Tapi Allah menghindarkan kami dari truk sialan itu dan menceburkan kami ke sawah
Rupanya izin tinggal kami di sini masih diperpanjang
Tapi milikmu ternyata sudah jatuh tempo
Ahh...
Kematian memang rahasia Allah, Taufik

Aku ingin berterima kasih padamu
Untuk setiap senyum yang kau kembangkan dari hatiku
lewat ASAL
lewat Republik BBM
lewat setiap penampilanmu yang tidak pernah menghina atau merendahkan sesama manusia

Selamat jalan, kawan
Semoga Allah memuluskan perjalananmu
Dan menjaga mereka yang kau tinggalkan

Kamis, 12 Juli 2007

KETIKA DEBBY SAHERTIAN JADI PRAMUGARI

Kontributor: Riezka Cantik Lestari (edited)
Ledis en jentelmen,
kulit bekudis ditempel semen.

Bouw, bouw, sesuai peraturan penerbangan, ik mawar kasi liat cara pake itu sabuk yang ada di pinggang jij, baju buat mengapung-apung, dan masker oksigen di kala napas sesek biar jij nantinya bisa selamet.

Coba sini diliat dulu cara pasang itu sabuk yang melilit di pinggang jij, cara ngunci biar gak gampang lepas,ngencengin, dan ngelepasinnya. Baju ngapung ada di bawah kursi yang jij dudukin, jangan dipake kecuali nanti mas kapiten ngajak berenang bareng.

Eit jangan lupa, itu barang jangan jij pindah-pindahin yaa, apalagi dibawa pulang buat pajangan salon. Yang ketauan sama ik, bakalan ditabok kanan kiri atas bawah depan belakang deh. Iiiih...

Cara make'nya, itu baju dikalungin di leher jij, ati-ati kekencengan, tar gak bisa napas. Makanya kudu ati-ati deh yah. Biar bisa ngapung, jij tarik itu pencetan warna merah delima, atau jij tiup itu pipanya.

Kalo nanti kluar lewat jendela darurat, itu baju apung dikembangin pas di luar aja deh, kalo di jendela nanti mampet karena gak muat. Aaihh.. ampe kritiing tangan ik narikin pencetannya keras. Adduuuh..gimana sih nih..
Eh, asal jij semua pada tau ya, ini pesawat punya dua pintu darurat: di depan, ada dua di belakang, dan ada dua lagi jendela darurat di tengah-tengah. Jadi keluarnya jangan rebutan ya.

Kalo nanti tiba-tiba napas sesek dan bukan karena sabuk yang di pinggang kekencengan, bukan pula karena salah masang pelampung, masker oksigen bakalan nongol dari atas kepala jij, tarik aje dah trus napas kayak biasa.

Kalo ada anak kecil, jij jij yang ude tuwir mesti pake dulu sendiri baru deh jij nolongin tu anak.

Kartu gambar biar selamet ada di kantong kursi di depan jijduduk, silakan dibaca dan dihayati dengan seksama yaaah..
Endang Sukamti, Chintya Lamusu,
trimakasi, God blesss you.
Yyuuuk... mariii..

SINAR CAHAYA AYAT KURSI

Chika Lestari (edited version)
Dalam sebuah hadits, disebutkan perihal seekor syaitan yang duduk di atas pintu rumah. Tugasnya ialah untuk menanam keraguan di hati suami terhadap kesetiaan isteri selama di rumah dan keraguan di hati isteri terhadap kesetiaan suami selama di luar rumah. Sebab itulah Rasulullah tidak akan masuk rumah sehingga Baginda mendengar jawaban salam dari isterinya. Di saat itu syaitan akan lari bersama-sama dengan salam itu.

Hikmat Ayat Al-Kursi menurut hadits-hadits:

1) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi bila berbaring di tempat tidurnya, Allah SWT mewakilkan dua orang Malaikat memeliharanya hingga subuh.

2) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang fardhu, dia akan berada dalam lindungan Allah SWT hingga sembahyang yang lain.

3) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap sembahyang, dia akan masuk surga dan barang siapa membacanya ketika hendak tidur, Allah SWT akan memelihara rumahnya dan rumah-rumah di sekitarnya.
4) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap-tiap shalat fardhu, Allah SWT menganugerahi dia hati yang bersyukur, perbuatan yang benar, pahala nabi2, serta limpahan rahmat.

5) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum ke luar rumah, maka Allah SWT mengutus 70,000 malaikat untuk menghampirinya--mereka semua memohonkan ampunan untuknya dan mendoakannya.

6) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sembahyang, Allah SWT akan mengendalikan pengambilan rohnya dan dia bagaikan orang yang berperang bersama Nabi Allah sehingga mati syahid.

7) Barang siapa yang membaca ayat Al-Kursi ketika dalam kesempitan niscaya Allah SWT berkenan memberi pertolongan kepadanya.
Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah S.A.W. bersabda, "Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..." "Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu."
Subhanallah...

THE POWER OF NOT KNOWING: Three In One

Ratih S. Jatmiko
A tribute to my mentor in administration and organizing things

Suatu sore, dengan Toyota Corolla DX warna merah keluaran tahun '80, saya berkendara dari LIA Pengadegan menuju Atma Jaya dengan rekan sejawat dan teman bergosip saya. Sepanjang jalan kami tertawa miris karena kami hanya berdua, padahal aturan three-in-one mulai diberlakukan.

"Jangan kuatir. Kan kita betiga. Sama dia," kata saya terbahak-bahak seraya menunjuk boneka sapi kecil yang tertidur damai di atas dashboard sambil menjalankan tugasnya menyimpan tisu.

Dengan gembira (sekaligus berdebar-debar) saya berpura-pura memanggili polisi-polisi yang kami lihat di jalan, "Tangkep dong, Pak. Kita kan cuman bdua. Ayo dong, Pak. Tangkep dong!"

Setelah "lolos dari lubang jarum" barulah saya mengaku bahwa SIM saya sudah 2 tahun kedaluwarsa. Dan dia hanya bisa geleng-geleng. Kami memang seperti langit dan bumi. Dia sangat teratur, tertib, by the book, dan lemah-lembut, prototipe wong Jowo tenan. Itu juga bisa dilihat dari cubicle kami yang ditempatkan bersebelahan. Mungkin Anda akan berkomentar, yang terawat, yang tidak terawat.

Adalah suatu berkah bahwa hari itu tak seorang polisi pun berinisiatif menangkap kami. Saya GR. Apa mungkin itu karena mereka malas menghentikan mobil saya yang sudah tidak remaja lagi ini? Hmmm...

Kira-kira satu setengah tahun yang lalu, dalam rangka ingin melihat dunia (saya sudah lamaaaa sekali bekerja di LIA dan sebagai manusia normal sering merasa ingin pindah ke lain hati), saya melamar (kembali) ke ALC. Mereka menyambut gembira dan langsung memberi saya dua kelas berturut-turut di sebuah perusahaan asing bernama APL di daerah Medan Merdeka coret.

Seminggu dua kali saya datang lebih awal sehingga bisa meluncur meninggalkan kantor sebelum kemacetan menghadang. Dan dua kali seminggu pula saya rutin melewati zona three-in-one: Gatsu, Sudirman, Thamrin. Waktu itu saya tidak begitu ngeh jam berapa sesungguhnya peraturan itu (dianggap) berlaku. Tiga bulan saya lewati dengan selamat, dengan SIM yang sudah kedaluwarsa pula.

PEMBELAAN DIRI SI PENUNDA

Ratih Sumiratingratri
(sebuah persembahan untuk sahabatku, my partner in crime, Srisna Lahay)

Bagi orang-orang yang tidak cukup mampu mentolerir stres, kebiasaan menunda pekerjaan bisa membuahkan rasa sakit yang tak terperi, yang berpangkal dari perasaan bersalah dan kepercayaan diri yang terkoyak. Para penunda menghindari pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Malangnya, pekerjaan-pekerjaan yang tidak memerlukan ketergesaan adalah godaan maha dahsyat bagi para penunda, termasuk saya dan sahabat saya Srisna.

Ada empat alasan sederhana mengapa orang-orang tertentu suka menunda pekerjaan. Pertama, mereka tidak yakin bahwa mereka mampu melakukan suatu pekerjaan dengan baik. Mereka cenderung menghindari kenyataan. Analoginya seperti seorang gadis yang tidak yakin bahwa dia mencintai seorang pemuda yang mengejar-ngejarnya pagi, sore, siang, malam. Karena bingung, dia memilih tidak membalas semua SMS dan tidak mengangkat semua telepon dari sang pemuda.

Alasan kedua, mereka khawatir pekerjaan yang kelihatannya maha berat itu akan menyedot waktu mereka. Mereka cenderung menunda suatu pekerjaan hingga pekerjaan itu mendapatkan satu kavling waktu sendiri, sehingga tidak perlu berbagi waktu dengan pekerjaan-pekerjaan yang lain.

Ketiga, mereka adalah perfeksionis dengan harapan yang terlalu tinggi untuk diwujudkan. Mereka takut berbuat salah. Mereka malu jika orang lain melihat kelemahan mereka. Daripada menyerahkan suatu pekerjaan sesegera mungkin dengan banyak kesalahan, lebih baik berlama-lama mengoreksi dan merevisi.

Keempat, mereka punya toleransi yang rendah terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Semua keadaan, peristiwa, dan orang-orang yang berkelebat di depan matanya adalah godaan.

Sesungguhnya kebiasaan menunda pekerjaan bisa jadi tidak berakibat terlalu fatal, selama kita sadar bahwa kebiasaan yang satu ini juga memiliki kelebihan. Anda tidak percaya?

Begini. Seorang penunda biasanya menunda penyelesaian suatu tugas penting untuk melakukan hal-hal lain yang (kelihatannya) tidak begitu penting. Disadari atau tidak, hal itu bisa dianalogikan seperti membayar hutang yang jatuh tempo jauh di depan, sama dengan mengurangi beban di masa mendatang, begitulah.
Contohnya, sekarang saya seharusnya menyelesaikan penulisan buku Star jilid 2 untuk LIA, Book Of A Young Artist jilid 2 untuk Erlangga, dan... untuk...(maaf, rahasia!), tapi apa yang saya lakukan? Saya hanya menyentuh mereka seperlunya. Sebagian besar waktu saya justru saya habiskan untuk mengerjakan terjemahan (yang tenggatnya masih jauuuuuuuh), bersosialisasi, blogging, membuat proposal ke penerbit-penerbit lain, membereskan koleksi buku dan DVD saya, menyortir gelas, dan melabeli alat-alat tulis. Bukankah kedengarannya konyol? Menurut Anda saya sedang menggali lubang kubur saya sendiri? Bisa jadi. Tapi saya justru merasa sedang menyiapkan jaring agar saya merasa nyaman ketika akal sehat saya kembali (lagi) dan akhirnya memutuskan untuk fokus.

Begini penjelasannya. Jika di antara pekerjaan-pekerjaan (tidak penting) yang saya lakukan itu menghasilkan buah yang manis, maka hati saya jadi gembira. Karena gembira, mood saya terbangun. Dengan begitu, pekerjaan-pekerjaan yang tertunda tadi bisa terselesaikan dengan baik dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Jika Anda belum percaya, saya punya contoh lain. Ketika sedang mengikuti proses penyaringan untuk menjadi guru di LIA, saya harus menyiapkan rencana ajar (lesson plan) sebagai persiapan ujian praktik mengajar. Saya punya waktu dua hari. Apakah saya menggunakan waktu saya dengan efektif? Tidak sama sekali. Di hari Sabtu seharian saya bermain pingpong dengan anak tetangga. Hari Minggunya... hmmm... hari Minggu kan harinya keluarga, tentu saya lebih memilih pergi dengan ayah dan ibu saya ke sana ke mari. Malamnya? Ketika semua orang sudah tidur, barulah saya menjerang air dan menyeduh segelas besar Kapal Api, lalu mulai fokus pada "hutang" saya. Dan hasilnya? Yaaaaa... tidak terlalu bagus memang, tapi toh saya tidak gagal. Dan anak tetangga itu menjadi sahabat baru saya.

Hmmm... tapi bukan berarti saya orang yang mampu mentolerir stres. Sekarang saya sedang dalam keadaan "hampir gila". Tapi saya yakin, even this will pass.

Jumat, 06 Juli 2007

A Review On THE 8th HABITt: FROM EFFECTIVENESS TO GREATNESS by Stephen R. Covey

Ratih S. Jatmiko's review on
"The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness" by Stephen R.Covey
Free Press, New York, 2004, pp.5, 97-98, 313, 315, 409

Have you ever met somebody who changed how you see yourself? Stephen R. Covey, an internationally respected leadership authority, family expert, teacher, organizational consultant and author who has written several acclaimed books, including the international bestsellers, The 7 Habits of Highly Effective People and The 8th Habit, says that his life profoundly changed when the president of the organization he had recently joined as a young man, entrusted him with a new assignment. He was asked to travel around the country and train local leaders, most of them much older than himself. Feeling young and inexperienced, Covey hesitated. Noticing his slow response, the president looked straight at him and said, “I have great confidence in you. You can do this. I will help you to prepare to teach. . .” This vote of confidence and promise of support is what gave Covey the courage to look within himself. As he says in his book, The 8th Habit, “His confidence, his ability to see more in me than I saw myself, his willingness to entrust me with responsibility that would stretch me to my potential unlocked something inside me. I accepted the assignment and gave my best.”

It was not easy. Covey says that it took a lot out of him physically, mentally, and emotionally—even spiritually. But the result was that he grew and as he did, the people he taught and touched also grew along with him. By the time Covey returned home, he had found his “voice”; he knew that what he wanted to do was to devote his life to unleashing human potential.

The confidence of one man who saw in Covey what he himself did not recognize was the trigger that unleashed his own potential. Later on, Covey realized that he was not the only one the president treated this way. Being a true leader, this wise man had seen what each person could do and by getting each one to realize his potential, he had tapped into the “voice” of each individual’s spirit. Each one he touched gave the courage and passion to do his best and this kind of performance contributed significantly to the success of the organization. While the challenges were always there, this wise leader gave inspiration and motivation. He provided them with the resources they needed, and in the process, empowered them to become “true leaders with accountability and stewardship.” It was this affirmation of others and the ability to unite them in vision toward their work that made others lead and serve in the same way. His great gift to those who worked under him was his ability to get each one to find his own “voice”.

In Stephen Covey’s words: “Leadership is communicating to people their worth and potential so clearly that they come to see it in themselves.” Most people often do not realize their own gifts and talents, perhaps because they have never been given the opportunities to develop them, or no one has ever seen their potential, or simply because each time they tried to do something, the only responses they got were put-downs. It takes a true leader to see what is unique in each person and to empower that person by getting him to use those gifts which are uniquely his. Once the individual is aware of his gifts and talents and puts them to use, he magnifies and uses them to empower others. A person who does not put his gifts and talents to use by ignoring or keeping them buried, loses them as well as the influence and opportunities he might have gained. The former has found his “voice” and has made the choice to become a leader.

In his book, The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness, Stephen R. Covey mentions that “voice” lies at the nexus of talent, passion, need, and conscience. Engaging in work in which a person uses his talents, fuels his passion to fulfill a need in the world that his conscience forces him to meet. Therein lies his “voice”. Once that person inspires others to find their own “voice”, he moves into a position of leadership.

Who is called to leadership? Everyone has the capacity to become a leader. It is by using our gifts and talents, magnifying them so they are put to use not just for ourselves but for others that we find the call to choose our own response. It is in such circumstances that “life calls out to us” to serve those we come in contact with whose needs we become aware of and are capable of responding to. In doing this, we find our “voice” in life. And it is thus that we take on the role of leadership.

Together We'll Survive

"Untaian Duka Taburan Mutiara" by Dyah Puspita, Mizan
TWHO THUMBS UP! A WORTH-READING BOOK !
Translated by Ratih S. Jatmiko for "Explore 3", LIA

As a single mother of an autistic child, I have faced many difficulties. There were times when I felt depressed and could not help but question my destiny. However, I am completely sure that behind every hardship there is a blessing and all the hardships I went through have made me a stronger and better person. I finally learned that I was not alone. I met many people who have been through the same kind of pain. I believe that when friends with the same problem stick together, they will find strength.

I decided to put my son in a special school but many of the schools rejected him because his case was considered ‘too severe’. Fortunately I finally found a special school in Lebak Bulus with a very cooperative and understanding school administrator. The school was the place where I met my best friend, Aty Zafar. Aty’s son, Farid was an autistic child, too. Aty was a nice person who had a small figure and short hair. Her simple and practical way of dressing made me feel at ease to approach her when we met for the first time. Talking to a friendly, polite, fun and understanding woman like her really made me feel comfortable. We talked and talked like two long lost best friends who had known each other for ages. Spending time with her was very enjoyable. Aty Zafar was the kind of friend I really needed.

I was aware that my only child Ikhsan was autistic because of the symptoms he showed. First, his verbal intelligence was so low that he could not comprehend simple instructions like “Go get your shoes”. He even found difficulty responding when his name was called. Sometimes I even thought he was deaf. Second, he was unreachable; he lived in his own world. He did not feel at ease communicating with people and always avoided eye contact. He did not know how to express his feelings and I had to struggle to get him to interact with others. He came to me only when he needed something—and it was definitely not to interact with me. Third, he had an unusual concentration span. It could be extremely long or unbelievably short. He could look at a certain spot for hours without moving or saying anything but at other times, he also find it stressful to focus on one thing that was not to his liking.

It was a bright sunny day when I took my son to his school. I did not expect I would meet somebody very special, a person whose actions made me realize that I was not alone. She was a mother of two children who lived in Cinere. She had spent three months in Australia to have her autistic child treated. We met, exchanged emails and called each other to discuss the nitty-gritty of parenting an autistic child. We helped and supported each other. She was a friend who made my life easier and she had this dream of establishing a special school for autistic children. Unfortunately, life is often unpredictable. “Ita, they could not help her. She passed away ten minutes ago”, her husband told me on the phone. His frail voice was like lightning on a sunny day to me. My heart was shattered. I was trembling and feeling helpless. I could not believe what I just heard and I was speechless.

It was quite funny how many people mixed us up because of our slightly similar names—Aty and Ita. Now that she was gone, nobody would call me Aty anymore. My best friend’s death affected me so much that I did not feel like doing anything. We always had the urge to talk to each other. Our friendship was really something and when she died, she left a big hole in my heart. For a while I was devastated. I felt so alone. I no longer had the energy to fight for autistic children. Luckily, God sent me other friends. One of them was Adriana S. Ginanjar, or Ina. She got me to pursue Aty’s dream—establishing a special school for autistic children. She even let us use her house for the school. It was finally established in February 2000 and named Mandiga (mandiri dan bahagia—independent and happy).

As a result, I have learned that togetherness—being with other people who understand--helps us survive. God creates differences among people for a reason—to give us a chance to learn from one another. Having Ikhsan as my son, I have learned much about patience, friendship, togetherness and surrender to God. Life is about making choices and living with the consequences. However, sometimes we do not have as many choices and as few consequences as other people do. Still, it is our duty to join hands and make our lives worth living. We, as humans, must trust Him and He will help us be better persons.

UNTAIAN DUKA TABURAN MUTIARA

Ratih S. Jatmiko


Untaian Duka, Taburan Mutiara is a book worth buying because it is inspiring. It is an eye-opener to understanding autistic children. This book is unique as it provides insights of how people can be tolerant towards others. The writer, Dyah Puspita wrote this book to help parents of autistic children and to make them understand their children better. Ita—as her friends call her—is herself a single parent of an autistic boy. In the book, Ita talks about how she has brought up her autistic son, Ikhsan Priatama. Amidst all the stormy days she had gone through, she could still find many blessings. Despite all the bitterness she had to swallow, Ita thanked God for the chance to be able to give to and care for others. At the same time, she also was able to explore her capabilities in teaching, what she has learned from her experiences. This book is food for the soul. The price is quite affordable at only Rp 26,000 each.
Get the book here. Dapatkan bukunya di sini.

AWARENESS BRACELETS

Ratih S. Jatmiko
Adapted from: www.tunascendekia.org

One of the ways to show your solidarity and care for your fellow countrymen is by wearing awareness bracelets. They are embossed with special messages like solidaritas kebersamaan. Here in Indonesia, the money we pay for each bracelet is donated to people who need help. Each bracelet costs Rp 10,000 and can easily be purchased through tunascendekia. These bracelets come in various colors, each with a different societal concern: red bracelets to raise funds for underprivileged children, blue for the tsunami victims in Aceh and North Sumatra, yellow for people suffering from cancer, and white for the poor.

INDAHNYA BERSELINGKUH...

Tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk mengkhianati suamiku tapi sekarang aku sedang berselingkuh.

Karena beberapa alasan yang terlalu pribadi untuk diungkapkan di sini, dalam dua trimester terakhir tahun 2005 tidak terhitung banyaknya surat lamaran yang kulayangkan ke berbagai perusahaan. Hasilnya sekarang aku punya pekerjaan sampingan yang membuat penderitaanku di kantorku JUSTRU terasa lebih ringan. Bagaikan gadis remaja yang sedang jatuh cinta, sekarang aku dag dig dug menanti honorku.

Teman selingkuhku bernama Serambi dan Erlangga. Ah... berselingkuh memang indah.

SINYAL KUAT DARI TUHAN

 pura-pura jadi orang Betawi

Maap ni, Pak, Bu. Bukan saya ngajarin. Namanya kan demi kebaikan, ya kan? Orang kate, kalo antara tengah malem ampe menjelang subuh nyang namenye sinyal dari Allah lagi kuat-kuatnya. Coba dah, tahajud jangan ditinggalin, terus ngadu aje ama Allah. Ati tu rasenye kaya bisa nangkep jawaban Allah, perasaan jadi adem. Kalo ketinggalan tahajud perasaan ade nyang kurang gitu, percis orang ketagihan obat. Bukannya saya pernah ngobat. Kalo ketagihan nyang baek pan kagak ape-ape. Cuman ya itu, kayak yang Ibu bilang barusan. Kudu sabar. Kalo yang kita minta kaga dikasi, kitanya jangan ngambek ama Allah. Lah ngambek ame mertua aja kagak pantes apalagi ama Allah, bener kagak? Kali aja waktunye belon tepat. Atawa kita mo dikasi nyang lebih baek, ya pan? Giliran dikasi nyang pait, kudu bisa ngeliat hikmahnye, kalo kaga bisa jadi sentres. Pan sayang, idup cuman sekali pake sentres-sentres. Maap ni, Pak, Bu. Bukan saya ngajarin.

WARNA-WARNI HIDUP

Written on Feb. 20, 2005 at 10:56 PM


Setiap momen dalam hidup kita adalah penggalan dari kisah perjalanan panjang.

Hari ini Alhamdulillah gue slamet. Kamera dijital punya kantor yang gue pikir ilang ternyata gak jadi ilang. Tadi gue udah sempet ngitung2 tabungan en mikir2 mo ngutang ama sapa dulu buat ngeganti tu kamera. Ahh...

Hari ini Alhamdulillah gue dapet lunch gratis. Gudeg pula. Rapat ama Komisi Kurikulum (yang biasanya disesaki debat seram dan suara tinggi) juga berjalan cukup mulus. Bu Febe bawa teri kacang, pake daun jeruk pula. Hmmm... sorrrrga dunia.

Hidup emang penuh warna. Selalu aja ada kejutan2. Selalu ada keajaiban dan kebetulan--yang sesungguhnya udah direncanakan-Nya.


Kemaren gue sempet pusing berat karena buku yang baru dicaci-maki kanan-kiri depan-blakang. Sampe-sampe ada rekan guru yang ujug-ujug masuk kelas gue dan marah-marah, menggugat apa yang tertulis. Hahhhh... Mother Yesso (mbok ya-o)!

Eh kok ndilalah ada testimonial yang sangat menghibur dari DEVINA and SRISNA. Thanks, gals. You're too generous. Itu buku emang gak pantes dipuji juga kok sebenernya (kalo mau jujur) tapi untuk melahirkan empat jilid dalam waktu 3,5 bulan emang bagaikan digodok di kawah Candradimuka. Kluar2 kulit jadi pada melepuh, rambut jadi gimbal, dan perasaan jadi supercallyfragilisticexpealidociously sensi.

Oh... my dearest fellow teachers, there is no such thing as a perfect material, believe me. Also keep in mind that in your hands, if you teach with all your heart, even the worst materials in the world can turn into good fruitful lessons.

BACK TO WORK!




Mulai Senen tanggal 3 April gue udah resmi balik kerja setelah 3 bulan 'pisah ranjang' ama LIA. Amit-amit, hari pertama aja gue udah ngerasa maleeeees banget. Rasanya pengen pensiun hari itu juga--kebayang kan? Alhamdulillah komputer gue rusak berat (lho kok?) jadi kudu diopname ama IT. Malemnya gue bongkar-bongkar lagi barang-barang almarhum Bokap. Akhirnya gue putusin untuk pake tas kerja doski merek President warna hijau daun. Ajaib. Gue jadi timbul semangat untuk balik ke rutinitas kerja: nulis, ngajar, bikin resensi buku en terjemahan. Bokap gak pernah kehilangan semangat, bahkan sampe menjelang hari-hari terakhirnya di RS Pelni dia masih ke sana ke mari ngerjain ini, itu dan anu. Gue pengen banget bisa ngewarisin semangat kerjanya dia. Pengeeeen banget. Tapi yaaaa, itulah, gue cuma manusia biasa yang kadang keinginannya gak sejalan dengan tindak-tanduknya. Hari Rabu gue nengokin komputer gue di IT, dia masih megap-megap. Yaaaa maklumlah, penulis kelas teri, komputernya juga komputer jangkrik yang CPUnya gampang banget kena kram otak. Walaupun nebeng di cubiclenya Wawa asik juga secara di mana-mana ada foto bayi Khansa yang imut dan menggemaskan, tapi namanya orang minjem di mana-mana pasti ada rasa sungkanlah. Orang bilang kerja di mana aja pasti ada enak-nggak enaknya. Mungkin bener juga sich. Tapi poro nayoko projo ing Kurimattes ini rupanya sudah terlalu lama berada dalam suasana kerja yang gak kondusif, selalu di bawah tekanan dan berada dalam ketidakpastian, hidupnya merana dan selalu dicerca. Alhasil terjadilah eksodus yang makin memperberat beban kerja para laskar yang ketinggalan di medan laga. Selama Bokap sakit dan akhirnya kembali menghadap Allah, temen2 gue juga menderita lahir-batin. Alhamdulillah pas makan siang tercapailah kata sepakat dengan para anggota Gerwani (Gerakan Wanita Ingin Pensiun Dini) untuk menetapkan tujuan hidup jangka pendek. Isi kesepakatan itu adalah:

1. Tiap Selasa minggu pertama kita makan siang di luar. Untuk mensukseskan program ini diadakanlah pengiritan dengan cara: yang hari-hari biasa jajan bawa makanan dari rumah, yang biasa naek taksi cari temen supaya bisa naek taksi berjamaah, yang biasanya naek bis jadi naek kereta, dll.

2. Tiap Selasa minggu kedua kita belanja. Supaya gak membuat patah hati penasehat keuangan kondang Safir Senduk, kita gak asal belanja tapi berdasarkan daftar barang-barang yang emang dibutuhkan (bukan sekedar diinginkan) en bila perlu yang bisa dijual untuk mendatangkan keuntungan. Kalo yang terakhir ini gak berlaku buat gue secara gue pernah mengalami kerugian waktu jualan combro di LIA Pramuka dulu, he he

3. Tiap Selasa minggu ketiga kita either nyalon or maenan clay di ruang kelas yang kosong. Salon terdekat en ternyaman ada di bilangan Tebet. Ke sana cuma naek angkot sekali. Jangan tanya namanya salon apa, gue lupa!

4. Tiap Selasa minggu keempat kita nonton DVD (serial, kalo film bioskop kepanjangan kali?) bareng pas jam makan siang. Kenapa Selasa? Soalnya Senen biasanya penuh dengan kehebohan. Rabu dan Jumat biasanya waktu buat kita untuk dibantai sama Komisi Kurikulum. Kamis biasanya hari jungkir balik karena Rabu-nya habis digempur dan Jumat-nya mau 'digamparin' lagi. Walaupun Selasa juga gak janji sich. Sering babak-belur juga. God knows if this plan will work out or not but at least by declaring the above pact, we know that there is something to look forward to.

Ude, jangan baca-baca blog gue mulu. Balik kerja sono! He he he he

SUNDANESE HOLLYWOOD MOVIE TITLES

Contributed by Astrid Susanti
  1. Saving Private Ryan -- Nulungan Si Rian
  2. Enemy At The Gate -- Musuh Ngajedog Di Pager
  3. Rocky -- Osok Neunggeulan Batur
  4. Rain Man -- Lalaki Cicing Di Bogor
  5. Die Hard -- Teu Paeh-Paeh
  6. Die Hard II -- Can Paeh Keneh
  7. There's Something About Marry -- Ari Ceu Meri Teh Kunaon?
  8. Mission Impossible -- Moal Bisa
  9. Titanic -- Tilelep
  10. Paycheck -- Nganjuk Heula
  11. Reign Of Fire -- Beubeuleuman
  12. Original Sin -- Tara Ka Mesjid
  13. Sleepless In Seattle -- Cenghar Di Ciateul
  14. Silence Of The Lambs -- Embe Pundung
  15. Ghost -- Jurig Kasep
  16. Bad Boys -- Budak Baong
  17. Are We There Yet? -- Lila Amat Teh Nepina?
  18. Home Alone -- Katinggaleun
  19. Freddy Vs Jason -- Pasea
  20. Casablanca -- Mengkol Ti Sudirman
  21. Gone In Sixty Seconds -- Indit Siah Kaditu!
  22. The Awakening -- Hudang Sare
  23. After The Sunset -- Tereh Maghrib
  24. The End Of Days -- Seep Waktosna

JAVANESE HOLLYWOOD MOVIE TITLES

Contributed by Astrid Susanti
Enemy At The Gates -- Musuhe Wis Tekan Gapuro
Batman Forever -- Ngembat Saklawase
  1. Remember The Titans -- Kelingan Titan-Titan
  2. The Italian Job -- Gaweane Wong Ngerum 5a Die Hard -- Matine Angel Die Hard II -- Matine Angel Tenan
  3. Die Hard III With A Vengeance -- Kowe Kok Ra Mati2 To?
  4. Bad Boys -- Bocah-Bocah Uelek
  5. Sleepless In Seattle -- Klesikan Neng Seattle
  6. Lost In Space -- Ilang Neng Awang-Awang
  7. X-Men -- Wong Lanang Saru
  8. X-Men 2 -- Wong Lanang Saru Banget
  9. X-Men 3 (Belum Dirilis) – Aming
  10. Cheaper By Dozen -- Tumbas Selusin Langkung Mirah
  11. The Cooler -- Selot Adem
  12. Paycheck – Kasbon
  13. Independence Day – Pitulasan
  14. The Day After Tomorrow – Sesuke
  15. Die Another Day -- Modare Ojo Saiki
  16. There Is Something About Marry -- Meri Ono Apa-Apane
  17. Silence Of The Lamb -- Wedhuse Mutung
  18. All The Pretty Horses -- Jarane Ayu2 (Legenda Pasar Kewan Mbahrowo)
  19. Planet Of The Apes -- Planete Wong Apes
  20. Gone In Sixty Second -- Minggat Sakcepete
  21. Original Sin -- Dosa Tenanan
  22. Mummy Returns -- Mami-Mami Podo Mudik
  23. The Abyss -- Entek-Entekan
  24. Copycat -- Kopi Kucing (Nggo Konco Sego Kucing)
  25. Seabiscuit -- Klethikan Neng Laut
  26. Freddy Vs Jason – Kerah
  27. Terminator -- Terminal Montor
  28. How To Lose A Guy In 10 Days -- Piye Carane Megat Lanangan Mung 10 Dino
  29. Lord Of The Ring -- Bakul Akik
  30. Deep Impact -- Ngantem Njero
  31. Million Dollar Baby -- Genjik Regone Sayuto
  32. Blackhawk Down -- Manuk Ireng Kenek Bedhil
  33. Saving Private Ryan -- Ngelesi Privat Mas Rian (Pancene Gu Oblok Tenan Opo?)
  34. Dumb And Dumber -- Wong Goblok Lan Guoooblok Tenan IN

HARGA BBM

Kiriman dari Mukti Mulyana

Ada yang punya analisa mengapa bila harga BBM naek, jumlah rakyat miskin turun? (Kayak yang dibilang LPEM bahkan sampe 14%) Kalo menurut gw, Analisanya sbb :

1. Tadinya rakyat miskin yang naek bis, sekarang jadi jalan kaki.. trus dijalan ketabrak metromini yg ngebut karena nguber setoran (soalnye bbm nya naek) trus mati.. --> RAKYAT MISKIN BERKURANG

2. Tadinya rakyat miskin makan sehari sekali.. trus jadi makan sekali buat 3 hari ( karena daya belinya turun).. lama2 mati.. --> RAKYAT MISKIN BERKURANG

3. Tadinya rakyat miskin yang pada sakit masih bisa beli obat generik.. trus gak bisa beli lagi .. ato tadinya ke puskesmas bisa naik angkot sekarang jalan kaki jadi malah mati di jalan..--> RAKYAT MISKIN BERKURANG Kenapa bisa dapet angka 14 %.. karena dari 100 orang miskin itu.. yang mengalami kejadian diatas ada 14 orang maka dapet angka 8+4+2 kali 100 = 14 % Demikian analisa ini dibuat secara sederhana, mudah dicerna, anti njlimet.

ADA APA DENGANKU?

Ya Allah,
mengapa aku tak kunjung bersyukur
untuk semua kenikmatan
yang Kaualirkan setiap hari
dan penderitaan hebat
yang Kaujauhkan dariku?

Seharusnya aku berterima kasih padaMu
yang tak pernah menghadapkanku pada
ketakutan hebat yang berkepanjangan,
kesepian menusuk dalam pengasingan,
cekaman perundungan,
dan kelaparan yang sangat

Seharusnya aku berterima kasih padaMu
Atas kedua orang tua yang rukun
Saling mencinta
Dan berpisah hanya karena ajal

Seharusnya aku berterima kasih padaMu
Atas begitu banyaknya orang yang Kaudatangkan ke sisiku
Untuk menyayangiku setulus hati
Menyegarkan hari-hariku
Di rumah, di tempat kerja, bahkan di dunia maya
Meski tak satupun dari mereka yang Kaukirim lewat rahimku

Ya Allah,
Aku cuma manusia biasa
Yang tak kunjung melihat ke bawah
Dan tak putus merenda angan
Beri aku kekuatan, Ya Allah
Untuk menjalani semua yang sudah menjadi takdirku
Dan berhenti bermimpi untuk menjalani
Apa yang tidak seharusnya kujalani
Menurut pertimbanganMu

Sembelit Jiwa

Aku ingin menulis
Aku ingin menulis
Apa daya?
Bayang dalam angan tak kunjung turun ke jari
Jalur bebas hambatan yang biasanya dibuka bebas
Hari ini penuh-sesak oleh berbagai rencana
Hingar-bingar oleh setumpuk janji

Ide-ide saling sikut
Berebutan
Ingin diwujudkan
Tak satupun muncul

Kecemasan
Kegelisahan
Kemarahan
Keputusasaan
Berdesakan
Memenuhi ruang hati

Tenggat, aku ngilu memandangmu
Jemu akan sentuhanmu
Kita cerai saja?

Cinta Yang Hilang

buat Frenzy

Ketika seorang pujangga melagukan rindu
Hatiku tersedot ke masa yang lalu
Ketika cinta menjadi yang terpenting
Penyejuk rasa di saat genting

Rasa itu hilang, terbang terbawa hembus bayu
Ketika dinding-dinding menghimpit dari segala penjuru
Dunia berputar makin cepat seperti hendak menghempaskanku
Dan yang kutahu hanya belajar menancapkan kuku
Macam anak kucing belajar memanjat
Di atas ada duri kawat
Di bawah ada selokan pekat

Aku merindukan semua
Rindu dan tanya
Resah dan gembira
Tawa dan luka
Haru dan ceria
Yang tercipta dari sebuah kata
Bernama cinta

Selamat Datang

Selamat datang, Nduk, penghuni baru dunia
Sekian lama aku dan ayahmu merindukanmu
Pandanglah kami, Nak
Hiruplah sejuknya udara kasih sayang yang mengelilingi kita
Nikmati hidupmu yang cuma sekali, anakku
Karena hidup itu sendiri adalah mukjizat
Rengkuhlah sebanyak yang bisa kaurengkuh
Jauhkan hatimu dari putus asa
Karena dalam hidup selalu ada harapan
Berbaiksangkalah senantiasa pada Yang Maha Menciptakan
Insya Allah, yang terbaiklah yang akan terjadi padamu

Nak,Mungkin nanti Allah memberimu adik,
Atau tidak
Itu rahasia-Nya
Tapi percayalah, sayang
Berapapun adikmu nanti
Di hatiku dan hati ayahmu selalu ada tempat lapang yang istimewa
Hanya untukmu
Datanglah ke sana, kapanpun kau mau

Bila kau besar nanti, anakku
Kau akan tumbuh menjadi bunga cantik
Kumbang-kumbang akan berdatangan dengan setumpuk janji
Barangkali nanti aku memasang wajah angker pada mereka
Jangan marah, Nak
Aku hanya ingin melindungi kepentinganmu
Suatu saat nanti kita akan berdebat, Nak
Tentang banyak hal
Barangkali nanti aku bersuara tinggi
Barangkali aku marah
Ingatkan aku bila sampai menyakiti perasaanmu
Bila saatmu tiba untuk berjuang nanti, putriku
Pijaklah bumi ini dengan mantap
Berjalanlah lurus menatap ke depan
Jangan pernah merasa takut pada apapun
Kecuali kepada Yang Memberi Hidup
Karena setiap niat buruk mereka yang memberatkan langkahmu
Tidak cukup berharga untuk mengacaukan pikiranmu
Sayangi dirimu, Nak
Berpaculah menggapai dunia,
dengan tetap mengenggam akhirat di dalam hati

PEKERJAAN dan SUKU

Sekedar menjawab rasa penasaran Heidy dan Arsela. Mohon maaf jika ada bagian yang menyinggung. Kesamaan nama tokoh, suku, dan pekerjaan hanyalah merupakan kebetulan dari hasil rekayasa.


Arien orang Jawa
Menanam bakau di rawa-rawa

Arsela orang Sunda
Ternak kerang di Laut Banda

Chatarou orang Ambon
Ternyata Komandan Peleton

Diraparau orang Padang
Ahlinya main gendang

Dadun orang Batak
Pedagang nasi kerak

Heidy orang Bali
Tukang masak nasi kebuli

Jamil orang Makasar
Pemilik pabrik agar-agar

Miss Worm orang Madura
Sehari-hari melatih kera

LOVERS' FIGHT

Buat adek-adekku Ima & Dadun
Love could be dangerous...

I'll always remember
A rainy eve in September
When we stole a double decker
And burst into laughter

It was our first trip together
When you were my navigator
I was the driver
And we were sober

We meant to go to the theater
But ended up in Ciater
We ached with anger
We lost our temper
Over an unimportant matter
And killed each other

ORIGINS 'n JOBS

Kalo bisa bacanya sambil pukul-pukul meja dengan irama, sambil manggut-manggut.
I’m Hungarian
I work as a librarian

I’m Indonesian
I am a pediatrician

I come from Japan
I grow crickets in a can

I come from Ukraine
I sell vodka and champagne

I’m a New Zealander
I am a butcher

I am Pakistani
I’m a government employee

Kamis, 05 Juli 2007

Balada Penulis Oplosan: SEJARAH KAMPRET

Gua menyebut diri penulis oplosan, atau penulis gadungan, karena gua bukan penulis yang terbiasa menulis sejak usia belia.

Di awal karir gue sebagai guru Bahasa Inggris di LIA, gue hanya menulis karena harus mengajar. Jadi yang gue tulis hanya seputar rencana ajar (lesson plan) dan bacaan untuk latihan sebagai pelengkap materi yang sudah ada di buku. Itu saja.

Di tahun ke empat, tiba-tiba pihak manajemen mengeluarkan kuesioner untuk diisi oleh para siswa, yang isinya menghina dan melecehkan profesi guru. Dalam perjalanan menuju rumah Ibu Warsiki, dari belakang setir VW kombi, gue membanyol dan balas melecehkan kuesioner konyol itu beserta para perumusnya. Sepanjang jalan, gue berhasil bikin para penumpang setia gue terpingkal-pingkal sampe kluar air mata.

Puas gue.

Di rumah Bu Warsiki kami makan-makan, melihat-lihat album foto, bertukar canda dan cerita hingga sang malam datang bersama kantuk.

Sesampainya di rumah badan gue cape, tapi hati mulai gelisah. Semua kerjaan murid udah gue periksa. Acara TV jelek-jelek. Trus gue mo ngapain? Akhirnya gue ambil kertas dan bolpen, dan mulai menulis skenario operet berdasarkan banyolan gue yang di mobil tadi. Waktu itu gue belom bisa pake kompi (kebayang kan gimana gapteknya gue?). Ngetik sih bisa, alhamdulillah 10 jari, tapi mesin tik lagi rusak.

Hmm... jadi juga. Judulnya Jeritan Hati. (Maaf gak bisa di-post karena udah ilang. Rekamannya di handycam juga udah ancur. Gw nyesel juga siy, knapa gak disimpen baek2?) Durasinya cuma 20 menit. Lumayan. Gak repot nanti ngapalinnya. Ngapalin? Emang sapa yang harus ngapalin? Emang sapa yang mau main?

Besoknya di sela-sela jadwal ngajar gue mulai lirak-lirik kanan-kiri. Satu-satu gue tumbalin. Srisna, Devina, Uri, gue punya naskah neh. Mau gak main? Buat lucu-lucuan aja.

"Asik nih. Coba aja kumpulin orang." Yes!!!

Akhirnya tu naskah difotokopi sebanyak para "tumbal", dan gue kumpulin mereka di lantai 6, kebetulan ada kelas kosong. Yak, reading dimulai. Alhamdulillah semua pada tergeli-geli. Isinya sederhana aja kok. Menertawakan diri sendiri. Korbannya bukan cuma para petinggi LIA, tapi juga guru-guru yang sok galak, satpam yang sok serem, sampe OB yang suka berantem lempar-lemparan kerjaan.

Tuh naskah sempet diedit ama Branch Manager (waktu itu masih Bu Audrey Widjaja) dan hampir gak boleh dipentasin. Tapi alhamdulillah, setelah diedit sana-sini, jadi juga.

Pas bel keluar buat istirahat ngajar, temen Bali gue yang bernama Endra Datta langsung nongol di pintu kelas gue, mendaulat buat nyari kord dan latian lagu2nya di audit. Biar lancar pas latian katanya. Seru juga.

Akhirnya Baginda Ratu Ratih berkenan mengumpulkan rakyatnya untuk latian di audit. Dengan segala macem action dan blocking tu cerita ternyata durasinya nyampe 25 menit. Bagus lah. Gak pendek2 amat. Trus minggu depannya mulai deh latian-latian. Karena ngapalin naskah ternyata bukan kerjaan gampang (ngajar Bahasa Inggris jauuuuh lebih gampang), kita putusin bikin lypsinc aja (meskipun akhirnya semua apal, kecuali gue!).

Hari H pementasan yang dilaksanakan pada event class assignment ("pembaptisan" buat guru-guru baru + rapat evaluasi dan pembagian kelas) adalah hari terindah dalam hidup gue. Suka banget gue ngeliat orang-orang dalam cerita gue jadi idup di panggung. Ada keharuan tersendiri waktu penontong ketawa histeris pas Kenny dan Widy duduk mesra punggung-punggungan dan menyanyikan versi plesetan "Bila Kuingat"nya Lingua yang liriknya gw rombak jadi nyerocos soal pengaruh krismon terhadap biaya fotokopi . Trus juga Bu Lies Kuncoro en Bu Yudi, guru-guru senior yang gue bikin make a fool out of themselves. Tapi yang paling nendang adalah penampilan Gandi, karena dia terkenal sebagai guru yang sangat serius dan sedikit bicara, tapi di panggung gua sihir dia jadi sinting, dan ternyata jadinya jauh lebih sinting. Asik. Salah satu guru baru bernama Hening Rahadianto bahkan menghampiri gue, kenalan, dan minta diajak main di pementasan berikutnya. Duh...

Selanjutnya bisa ditebak, kalo ada acara-acara di LIA, gue disuruh ngisi acara dengan kelompok guru-guru gila yang menyebut dirinya Kampret (Kami Pramuka English Teachers). Banyak banget kenangan manis yang tersimpan di memori gue soal Kampret: Acil dan Fia yang selalu membuat panggung kliatan keren dan cantik; Fia dan Nunik yang setia ngedandanin para pemain, Sherly yang gak pernah kapok bikinin koreografi; juga para pemusik cabutan--Endra, Dwi Hendro, Gandi, dan Tony; Pak Kur yang karena baby face-nya bolak-balik didapuk jadi anak SMA (padahal dia supervisor!), Bu Jami dan Marni yang jerit histerisnya membahana, pokoknya buanyaaaak...

Tahun-tahun berlalu, dan sejak gue jadi penulis penuh waktu di Subdit Kurikulum, Materi & Tes, jarak dan ruang memisahkan kami. Gue bahkan udah gak ngajar di Pramuka lagi. Tapi kenangan manis itu akan terus tersimpan di satu bilik khusus di dalam hati gue, yang kuncinya hanya dimiliki oleh para Kampretters yang pernah menikmati rentetan kegilaan bersama gue.

Terima kasih, Kampret...

Kau membawaku pada pemikiran bahwa aku BISA menulis.
Kau yang mengantarkanku menjadi penulis lepas untuk Citra Studio.
Kau yang melancarkan jalan bagiku untuk menjadi penulis tetap di Subdit Kurimat (meskipun di sana lahir-batinku teraniaya tapi otakku terasah).
Kau yang membuka peluang bagiku untuk menulis komik serial di majalah C'nS Junior.
Kau yang mengajariku arti kata perjuangan
Harapan
Kemungkinan
______________

My dearest fellow Kampretters,
I miss the good old days...
I love you guys so much and will always treasure every single moment we spent together behind and on stage.
Thank you for letting me have the journey to discover my true calling.
I hope someday, someway, somehow, we'll be able to work together again.

WRITING: "Too Many Embryos Won't Kill You"

A thoughtful fellow writer named Jun once said I had too many "embryos" and that wouldn't work. According to him, I should focus and write one step at a time. I couldn't agree more, but...
Well...
I'm but a stubborn Scorpion. And I prefer doing a little bit of everything at one sitting.
A dear fellow teacher named Srisna once said life is about making choices and living with the consequenses.
I believe she's right. And I'm quite content that I know my consequenses: I have to prioritize (which means Evand Halim has to bear with me for I won't submit the homework he assigned, LOL!).