Thursday, July 12, 2007

THE POWER OF NOT KNOWING: Three In One

A tribute to Astrid Susanti, my mentor in administration and organizing things

Suatu sore, dengan Toyota Corolla DX warna merah keluaran tahun '80, saya berkendara dari LIA Pengadegan menuju Atma Jaya dengan rekan sejawat dan teman bergosip saya, Astrid Susanti. Sepanjang jalan kami tertawa miris karena kami hanya berdua, padahal aturan three-in-one mulai diberlakukan.

"Jangan kuatir, Strid. Kan kita betiga. Sama dia," kata saya terbahak-bahak seraya menunjuk boneka sapi kecil yang tertidur damai di atas dashboard sambil menjalankan tugasnya menyimpan tisu.

Dengan gembira (sekaligus berdebar-debar) saya menggoda Astrid dari balik jendela mobil yang tertutup rapat (dan mudah-mudahan) kedap suara, berpura-pura memanggili polisi-polisi yang kami lihat di jalan, "Tangkep dong, Pak. Kita kan cuman bdua. Ayo dong, Pak. Tangkep dong!"

Setelah "lolos dari lubang jarum" barulah saya mengaku pada Astrid bahwa SIM saya sudah 2 tahun kedaluwarsa. Dan dia hanya bisa geleng-geleng. Astrid dan saya memang seperti langit dan bumi. Dia sangat teratur, tertib, by the book, dan lemah-lembut, prototipe wong Jowo tenan. Itu juga bisa dilihat dari cubicle kami yang ditempatkan bersebelahan. Mungkin Anda akan berkomentar, yang terawat, yang tidak terawat.

Adalah suatu berkah bahwa hari itu tak seorang polisi pun berinisiatif menangkap kami. Saya GR. Apa mungkin itu karena mereka malas menghentikan mobil saya yang sudah tidak remaja lagi ini? Hmmm...

Kira-kira satu setengah tahun yang lalu, dalam rangka ingin melihat dunia (saya sudah lamaaaa sekali bekerja di LIA dan sebagai manusia normal sering merasa ingin pindah ke lain hati), saya melamar (kembali) ke ALC. Mereka menyambut gembira dan langsung memberi saya dua kelas berturut-turut di sebuah perusahaan asing bernama APL di daerah Medan Merdeka coret.

Seminggu dua kali saya datang lebih awal sehingga bisa meluncur meninggalkan kantor sebelum kemacetan menghadang. Dan dua kali seminggu pula saya rutin melewati zona three-in-one: Gatsu, Sudirman, Thamrin. Waktu itu saya tidak begitu ngeh jam berapa sesungguhnya peraturan itu (dianggap) berlaku. Tiga bulan saya lewati dengan selamat, dengan SIM yang sudah kedaluwarsa pula.

No comments:

Post a Comment