Thursday, July 12, 2007

PEMBELAAN DIRI SI PENUNDA

Ratih Sumiratingratri
(sebuah persembahan untuk sahabatku, my partner in crime, Srisna Lahay)

Bagi orang-orang yang tidak cukup mampu mentolerir stres, kebiasaan menunda pekerjaan bisa membuahkan rasa sakit yang tak terperi, yang berpangkal dari perasaan bersalah dan kepercayaan diri yang terkoyak. Para penunda menghindari pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Malangnya, pekerjaan-pekerjaan yang tidak memerlukan ketergesaan adalah godaan maha dahsyat bagi para penunda, termasuk saya dan sahabat saya Srisna.

Ada empat alasan sederhana mengapa orang-orang tertentu suka menunda pekerjaan. Pertama, mereka tidak yakin bahwa mereka mampu melakukan suatu pekerjaan dengan baik. Mereka cenderung menghindari kenyataan. Analoginya seperti seorang gadis yang tidak yakin bahwa dia mencintai seorang pemuda yang mengejar-ngejarnya pagi, sore, siang, malam. Karena bingung, dia memilih tidak membalas semua SMS dan tidak mengangkat semua telepon dari sang pemuda.

Alasan kedua, mereka khawatir pekerjaan yang kelihatannya maha berat itu akan menyedot waktu mereka. Mereka cenderung menunda suatu pekerjaan hingga pekerjaan itu mendapatkan satu kavling waktu sendiri, sehingga tidak perlu berbagi waktu dengan pekerjaan-pekerjaan yang lain.

Ketiga, mereka adalah perfeksionis dengan harapan yang terlalu tinggi untuk diwujudkan. Mereka takut berbuat salah. Mereka malu jika orang lain melihat kelemahan mereka. Daripada menyerahkan suatu pekerjaan sesegera mungkin dengan banyak kesalahan, lebih baik berlama-lama mengoreksi dan merevisi.

Keempat, mereka punya toleransi yang rendah terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Semua keadaan, peristiwa, dan orang-orang yang berkelebat di depan matanya adalah godaan.

Sesungguhnya kebiasaan menunda pekerjaan bisa jadi tidak berakibat terlalu fatal, selama kita sadar bahwa kebiasaan yang satu ini juga memiliki kelebihan. Anda tidak percaya?

Begini. Seorang penunda biasanya menunda penyelesaian suatu tugas penting untuk melakukan hal-hal lain yang (kelihatannya) tidak begitu penting. Disadari atau tidak, hal itu bisa dianalogikan seperti membayar hutang yang jatuh tempo jauh di depan, sama dengan mengurangi beban di masa mendatang, begitulah.
Contohnya, sekarang saya seharusnya menyelesaikan penulisan buku Star jilid 2 untuk LIA, Book Of A Young Artist jilid 2 untuk Erlangga, dan... untuk...(maaf, rahasia!), tapi apa yang saya lakukan? Saya hanya menyentuh mereka seperlunya. Sebagian besar waktu saya justru saya habiskan untuk mengerjakan terjemahan (yang tenggatnya masih jauuuuuuuh), bersosialisasi, blogging, membuat proposal ke penerbit-penerbit lain, membereskan koleksi buku dan DVD saya, menyortir gelas, dan melabeli alat-alat tulis. Bukankah kedengarannya konyol? Menurut Anda saya sedang menggali lubang kubur saya sendiri? Bisa jadi. Tapi saya justru merasa sedang menyiapkan jaring agar saya merasa nyaman ketika akal sehat saya kembali (lagi) dan akhirnya memutuskan untuk fokus.

Begini penjelasannya. Jika di antara pekerjaan-pekerjaan (tidak penting) yang saya lakukan itu menghasilkan buah yang manis, maka hati saya jadi gembira. Karena gembira, mood saya terbangun. Dengan begitu, pekerjaan-pekerjaan yang tertunda tadi bisa terselesaikan dengan baik dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Jika Anda belum percaya, saya punya contoh lain. Ketika sedang mengikuti proses penyaringan untuk menjadi guru di LIA, saya harus menyiapkan rencana ajar (lesson plan) sebagai persiapan ujian praktik mengajar. Saya punya waktu dua hari. Apakah saya menggunakan waktu saya dengan efektif? Tidak sama sekali. Di hari Sabtu seharian saya bermain pingpong dengan anak tetangga. Hari Minggunya... hmmm... hari Minggu kan harinya keluarga, tentu saya lebih memilih pergi dengan ayah dan ibu saya ke sana ke mari. Malamnya? Ketika semua orang sudah tidur, barulah saya menjerang air dan menyeduh segelas besar Kapal Api, lalu mulai fokus pada "hutang" saya. Dan hasilnya? Yaaaaa... tidak terlalu bagus memang, tapi toh saya tidak gagal. Dan anak tetangga itu menjadi sahabat baru saya.

Hmmm... tapi bukan berarti saya orang yang mampu mentolerir stres. Sekarang saya sedang dalam keadaan "hampir gila". Tapi saya yakin, even this will pass.

No comments:

Post a Comment