Wednesday, June 6, 2007

Asam di Gunung, Garam di Laut

KORAMIL (KOlaborasi RAtih dan jaMIL)


ASAM (Ratih Sumiratingratri)


Orang datang ke bank untuk membuka rekening dengan membawa setumpuk uang tentu bukan hal yang aneh. Tapi lain halnya bila orang itu menyimpan uangnya di dalam ember plastik, lalu menutupinya dengan gumpalan kertas koran. Sungguh cara yang brilian. Tak seorangpun akan menduga apa yang dibawanya di dalam ember jelek itu. Apalagi dengan pakaiannya yang dekil. Kalau saja hari itu aku tidak sedang jengkel, mungkin aku akan bisa menikmati "kegilaan" laki-laki separuh baya itu dan menganggapnya sebagai intermezzo yang menghibur. Tapi...


"Neng, saya mau buka rekening."



"Silakan diisi formulirnya, Pak. Berapa uangnya?" setengah mati aku berusaha tersenyum setelah menjalani hari yang menjengkelkan.


Dan laki-laki berpakaian dekil itu meletakkan ember dekil yang dibawanya ke atas meja dengan mimik datar seolah-olah itu hal yang biasa saja.


"Bisa tolong dihitungkan, Neng? Saya tidak tahu pasti berapa jumlahnya."


Serta merta darahku mendidih. Senyum palsu lenyap dari wajahku yang mengeras. Uang di dalam ember itu begitu kusut dan kotor. Bertumpuk-tumpuk begitu saja seperti acar. Belum lagi baunya, huh!


"Kurang ajar," batinku.


"Apa dia pikir aku ini tukang sayur di pasar?"


Teman-temanku lebih kurang ajar lagi. Diam-diam mereka menertawakanku. Hahh... ember plastik yang besar. Dan isinya uang kertas beraneka satuan, dari limaribuan sampai seratusribuan. Orang kaya baru rupanya, lumayan juga, delapan ratus juta.


Kutarik napas dalam-dalam. Dengan dongkol kuhitung tumpukan uang itu. Jangan-jangan orang ini rampok. Tapi dengan ekor mataku kutangkap kepolosan di matanya. Ah, barangkali dia hanya orang bodah yang baru kali ini pergi ke bank. Atau dia baru menang lotere? Ah, sudahlah. Apa gunanya kupikirkan orang aneh itu.


Ini memang hari yang aneh. Tapi dia bukan orang aneh pertama yang kutemui. Tak lama setelah itu datang seorang perempuan gemuk berambut keriting yang wajahnya berkeringat. Dia datang dengan napas satu-satu seperti baru dikejar setan. Kalau mood-ku sedang baik barangkali akan kuajukan pertanyaan seperti Tadi naik tangga ya, Bu? atau Ke sini jalan kaki, Bu? tapi tidak. Aku malas. Energiku sudah hampir habis jadi aku diam saja dan memasang wajah datar. Ternyata ia datang untuk mengambil uang dari tabungannya. Dengan gayanya yang selangit dan emas permata yang bergelantungan di tubuhnya, dia kuharapkan akan mengambil uang dengan jumlah yang signifikan. Ternyata ia hanya mengambil lima puluh ribu rupiah dari tabungan yang isinya tinggal seratus duapuluh ribu rupiah! Wanita yang aneh.
Aku bekerja di cabang pembantu di sebuah kampus. Tapi nasabah kami bukan melulu mahasiswa yang membayar uang kuliah atau menabung. Lebih dari setengahnya adalah orang luar. Waktu tiga tahun yang kuhabiskan untuk mengais rezeki sebagai teller di sini memberiku kesempatan mengenali setiap wajah dan nama dengan baik. Dan kedua orang tadi jelas bukan dosen, karyawan, apalagi mahasiswa di sini. Dari semua orang aneh yang pernah kutemui di sini, merekalah yang teraneh.


Seminggu kemudian, di cabang pembantu yang sempit ini pula, aku menerima telepon dari kakak sepupuku, Mbak Retno dan mendengar sebuah berita duka. Aku tak kuasa menahan perasaanku. Ibuku meninggal mendadak karena serangan jantung. Ya Tuhan, rasanya aku ingin mati saja. Untungnya hari itu temanku Mia dengan sigap mengambil alih tugasku dan menyuruh salah satu petugas keamanan bank kami, Pak Eko mengantarkanku pulang.
Hari-hari berikutnya berjalan sangat lambat seperti perjalanan kafilah di gurun pasir yang sedang kena badai. Aku nyaris tak kuat melanjutkan hidupku. Selama tiga hari tangisku nyaris tak pernah putus. Dalam tidur aku menangis, dalam doa, dalam segala hal yang kulakukan, bayangan wajah Ibu selalu menghantuiku. Aku sedih karena belum sempat memberinya apapun. Ibuku ibu yang baik sekali. Sebagai janda yang hanya memiliki satu anak, ia tergolong wanita yang periang. Semua kesulitan dijalaninya dengan rasa syukur. Ketegaran dan keceriaannya menular padaku. Ibulah sumber kekuatanku.


Waktu berlalu. Tidak terasa aku sudah dua tahun bekerja di kantor pusat. Ternyata tanpa Ibu aku masih bisa bertahan hidup sampai sekarang walaupun acapkali kerongkonganku tercekat bila aku menghadapi hal-hal yang mengingatkanku pada Ibu, dan hatiku terasa kosong. Tadi malam sesudah sholat tahajjud, aku mimpi berjumpa Ibu. Dalam mimpi kuceritakan tentang Usman kekasihku. Ia tak berkata apa-apa, hanya tersenyum. Itu sudah cukup untuk meyakinkanku bahwa aku tidak salah pilih.


Hari yang terik. Sebentar lagi Lebaran. Empat Lebaran terakhir rasanya begitu berat karena harus kulalui tanpa Ibu. Aku sedang sibuk melayani nasabah yang berjejal, antri untuk memenuhi kebutuhan hidup menjelang Lebaran.


Usman berjanji akan menjemputku hari ini untuk memperkenalkanku pada keluarganya. Kedatangan kami disambut sapa renyah dan senyum hangat ayahnya: laki-laki dengan uang dalam ember itu.


****


GARAM (Muzzamil Jibril Massa alias Jamil Begundal)


Pak Nasri lega setelah menjual beberapa ekor ternak dan tanahnya. Kini ia mulai bisa membayangkan anak lelaki satu-satunya, si Usman menikah. Coba kalau yang jadi calon mantunya itu Fatimah, anak bu Laela si janda tua yang tinggal di kampung sebelah, mungkin dia tidak perlu bersusah payah. Cukup panggilkan Haji Jumadil sebagai penghulu, potong sapi seekor, kambing barang dua, beberapa karung beras dan janur kuning seadanya; maka jadilah pernikahan itu. Tapi yang jadi jodoh si Usman itu bukan si Fatimah yang parasnya lumayan bening, melainkan seorang gadis kota yang bahkan namanya sulit ia ucapkan.


"Vonny," ucap Usman mengingatkan abahnya.


"Iyah, si Poni.. "


"Bukan Poni, Abah! Vonny," ralat Usman dengan bibir yang ditekan kuat. Susah juga mengajari si abah mengucapkan nama perempuan yang dicintainya itu.


"V-O-N-N-Y," eja Usman dengan mimik sedikit gusar.


"Iyah, abah tau!" gantian si abah yang terlihat agak meradang, "jadi kapan kamu mau mengenalkannya sama abah?"


"Secepatnya, Bah. Sekarang dia lagi sibuk kerja. Hari sabtu baru libur. Nanti Usman antarkan ke sini."


"Kamu sudah yakin mau menikah dengan gadis itu?"


"Haqul yakin, Bah!" Usman mengangguk mantap menegaskan kesungguhannya.


"Ya sudah kalau itu maumu," Pak Nasri mengisap kembali cangklongnya.


Dipejamkan matanya guna menikmati sensasi tembakau yang terasa sampai paru-paru. Hembusan asap cangklong bergerombol tak teratur. Laksana parade tujuhbelasan yang bubar begitu hujan datang mengguyur.


Pak Nasri sayang betul sama si Usman. Maklum, anak semata wayang. Apa-apa kemauannya pasti dituruti. Dulu ketika anak ini merengek minta dibelikan sepeda, dia rela menjual si Jangor kambing kesayangannya untuk beli kendaraan roda dua itu. Juga waktu dia minta dibelikan motor, kala itu yang jadi korban adalah sepetak tanah di ujung kampung. Waktu si Usman minta dikuliahkan di kota, pak Nasri tidak tanggung-tanggung melego dua hektar sawahnya. Dan sekarang, waktu dia mau menikah, pak Nasri harus berkorban habis-habisan.


"Malu, atuh, Abah, sama orangtuanya si Vonny. Masa kawinan anaknya cuma kelas kampung doang. Sekarang jamannya orang kawinan di restoran atau hotel. Biar gengsinya tinggi. Abah kan orang terkaya di kampung ini," urai Usman panjang lebar menjelaskan rencananya saat Pak Nasri bertanya soal biaya pernikahan Usman yang terlalu mahal.


Pak Nasri sama sekali tidak bisa membantah. Dia cuma orang kaya kampung tamatan es-em-a. Sedang si Usman jebolan universitas ternama. Dan di universitas itulah dia bertemu dengan perempuan yang bernama Poni tersebut.


"Vonny, Bah."


"Iyah, abah tahu...!"




* * *


Sekarang satu lagi kebingungan melanda pak Nasri. Uang yang diterimanya amatlah banyak hingga dia sendiri tak tahu mau disimpan di mana. Disimpan di bawah bantal, jelas tak mungkin karena uang ini begitu banyak. Disimpan di koperasi, takut dikorupsi. Di simpan di bank, takut kena riba.


Jadilah seharian itu pak Nasri kebingungan memandangi uangnya yang masih berhamburan. Pak tua itu belum sempat menghitung ada berapa banyak uang yang ia terima hasil jualan ternak dan tanah. Yang jelas uang itu ada ratusan lembar dengan nominal beragam rupa.
Tiba-tiba dia ingat sesuatu. Si Usman yang lulusan ekonomi itu pernah bercerita tentang bank syariah. Tempat teraman menyimpan uang yang dijamin halal karena tanpa riba. Tapi satu-satunya bank syariah di daerah ini adanya cuma di kota. Ia khawatir membawa uang sebanyak itu ke kota. Dia ingat akan cerita si Marni ketika baru pulang dari Malaysia. Di kota, mantan TKW itu berkenalan dengan seorang pemuda yang ternyata tukang hipnotis. Saat itu tahu-tahu Marni pulang dengan hanya menyisakan pakaian melekat di badan, ditambah uang lima ribu rupiah. Beberapa ribu ringgit, tabungan dari hasil kerja kerasnya selama di Malaysia, dibawa lari sang pemuda entah ke mana.


Pak Nasri lantas mulai memutar otak, bagaimana caranya membawa uang tersebut sampai ke bank dengan selamat. Dalam kebingungannya, pria bergigi rumpang itu kemudian teringat akan sebuah film yang pernah ditontonnya. Tentang seorang penjahat yang menyamar menjadi pengemis bertampang dekil. Ting! Seperti ada bola lampu menyala di atas kepala pak Nasri. Dia mendapat ide.


Segera ia cari pakaian yang biasa dipakainya membajak sawah. Kemudian diambilnya sebuah ember yang biasa dipakai membersihkan kotoran sapi di kandang. Diisinya ember itu dengan uang hasil penjualan sawah dan ternak. Dan jadilah! Pak Nasri kini benar-benar mirip pengemis paling melarat sedunia.


* * *


"Neng, saya mau buka rekening," ucap pak Nasri pada seorang teller sesampainya ia di bank.


"Silakan diisi formulirnya, Pak. Berapa uangnya?" teller itu bertanya dengan senyum dipaksa.


Pak Nasri bingung, sedari kemarin dia belum juga sempat menghitung uangnya.


"Bisa tolong dihitungkan, Neng? Saya tidak tahu pasti berapa jumlahnya," ujar pak Nasri seraya mengangkat ember berisi uang itu ke atas meja teller.


Pak Nasri sebenarnya ingin sekali mencekik teller bank yang kini ada dihadapannya. Sama sekali tidak punya rasa hormat sama orangtua. Dari sorot mata dan lindap bibirnya, pak Nasri sudah bisa menebak apa yang dipikirkan gadis cantik itu.


Pasti dia sedang mengata-ngatai aku dalam hati, batin pak Nasri. Belum tahu dia kalau aku ini orang paling kaya di kampung, jengkel pak Nasri masih membatin. Tapi dia langsung sadar, si teller itu mungkin jengah dengan gaya berpakaiannya yang memang disengaja itu. Sejenak pak Nasri bersyukur dalam hati. Sepanjang perjalanan dari kampung ke kota dia tidak didera marabahaya.


"Semua delapan ratus juta, Pak," si teller sudah selesai menghitung. Beberapa orang teman sesama teller lainnya tampak mengikik menahan tawa. Agak kasihan juga pak Nasri dengan teller itu. Sudah harus menghadapi orang seperti dia, terus menghitung uang lecek dan bau yang jumlahnya mungkin ribuan; eh sekarang bukannya dibantu malah diketawai sama teman-temannya. Pasti ini hari yang berat untuknya.


Kini urusan pak Nasri telah selesai. Sebelum beranjak dari bank ia ucapkan terima kasih pada teller yang malang itu. Si teller Cuma mengangguk lemah. Tampak dari wajahnya gurat-gurat kelelahan. Dalam hatinya pak Nasri bersumpah, akan mencegah anaknya habis-habisan kalau punya niat bekerja di tempat seperti ini.


* * *


Sudah lewat setahun. Calon mantu yang ditunggu-tunggu tidak juga diperkenalkan oleh anaknya. Kata Usman, calon mantunya itu sedang berduka. Ibu si calon mantu, alias si calon besan meninggal. Awalnya pak Nasri cuma bisa mengucap innalilahi sembari turut berduka. Namun waktu dua tahun dirasanya adalah waktu yang cukup lama untuk menunda sebuah pernikahan.


Beberapa kali dia mendesak si Usman untuk cepat-cepat mencari pengganti. Namun rupanya si Usman telah cinta mati. Tak ingin dia khianati kekasih yang disayanginya itu.


Tak urung pak Nasri ikut terharu juga melihat kebulatan tekad anaknya. Ah, mungkin inilah cinta jaman sekarang, harus menunggu walau telah cukup banyak pengorbanan.


Si Usman sekarang sudah punya usaha sendiri. Pembuatan roti aneka rasa yang berkembang amat pesat. Semua berkat modal dari uang yang disimpannya dua tahun lalu. Agak geli juga pak Nasri mengingat kejadian itu. Dan sekarang dia benar-benar bersyukur, Usman benar-benar tidak jadi karyawan bank seperti yang dia takutkan.


Suatu hari, dengan mobil sedan mewahnya, Usman datang dari kota. Disangkanya anak itu hanya ingin datang menjenguk saja. Tapi ternyata kedatangannya tidak sendiri. Anaknya itu kini datang bersama seorang gadis bermata jernih berhidung bangir. Cantik sekali.


"Abah, ini Vonny. Calon istri Usman," gadis berkerudung hijau pupus itu membungkuk dan mengatupkan dua belah tangannya penuh hormat.


Abah hampir membalas ketika dia sadar siapa gadis yang ada dihadapannya itu. Dan si gadis tampaknya juga masih mengenali dirinya. Ya, gadis itu adalah teller bank yang dijumpainya setahun lalu.


"Abah," gadis itu membukuk hormat dihadapan pak Nasri. Suaranya lembut dan terdengar renyah di telinga. Pak Nasri rupanya senang dengan calon mantunya. Dia biarkan tangannya yang gempal sebab kebanyakan mencangkul itu dicium si gadis.


"Ah, Usman, tidak sia-sia abah menunggu. Calon istrimu ini cantik sekali. Sopan lagi," seloroh pak Nasri sambil terkekeh.


"Siapa dulu dong calonnya? Usman. Ha..ha..ha!"


Semua di ruangan itu ikut tertawa kecuali si gadis yang mukanya tampak merah padam.


"Ayo, Poni masuk ke dalam. Kita makan bersama," ajak pak Nasri.
"Vonny, Abah!" bisik Usman sambil menyikut abahnya.
"Iyah, Abah tau...!"

No comments:

Post a Comment