Wednesday, June 4, 2008

Menyantap Mujahidin

For Astrid Susanti on her birthday on April 27

Santap sahur untuk puasa Senin-Kamis tak lagi meriah sejak ayah, ibu dan kakakku pindah ke Semarang. Aku malas ikut pindah. Tanggung. Sebentar lagi ujian. Lagipula rumah nenekku masih bisa dicapai dengan berjalan kaki.

Sebetulnya aku tidak sungguh-sungguh tinggal sendiri. Nenek menyuruh Jeanette, Sabar, Syukur, dan Darsono menemaniku di sini. Aku maklum jika Pak RT tidak sudi memasukkan nama mereka ke dalam kartu keluarga kami. Selain karena perbedaan spesies, mereka juga tidak pernah bisa melakukan tugas-tugas ringan sehari-hari seperti membeli gula ke warung, membayar listrik, atau menyiangi rumput. Aku tidak ingin menambah beban hidup mereka. Toh mereka cuma kucing. Aku juga tidak keberatan melakukan semua itu sendiri.


Aku sangat menikmati kebersamaanku dengan mereka—bermain, bercanda, dan mengobrol. Tidak seperti ketika aku mengobrol dengan kakakku, dengan mereka obrolan kami sangat klik dan nyambung. Tak satu pun dari mereka yang pernah mendebatku. Kami satu visi tentang segala topik.

Jauh sebelum tengah malam aku segera tidur karena sudah berniat puasa. Begitu jam weker menjerit, aku bangkit. Kuundang keempat kucing untuk menghadiri santap sahur bersamaku. kuletakkan keempat piring kaleng mereka di atas meja makan. Lalu kupindahkan nasi beras merah dari dandang ke piring-piring mereka dan tentunya piringku juga. Tidak perlu dipanaskan. Santai saja. Kaum kucing tidak begitu peduli pada presentasi hidangan. Yang penting ada aroma ikan. Maka setelah kutaburi nasiku dengan parutan keju, kutaburi nasi mereka dengan ikan asin remuk.

Kupersilakan mereka bersantap sementara aku membuat kopi. Tidak ada gunanya menyuruh mereka menunggu. Toh mereka tidak akan kubuatkan kopi. Bau kopi Toraja atau Aceh yang paling menggoda pun tidak akan menerbitkan selera mereka, karena tidak mengandung ikan.

Sambil merebus campuran segelas air dan dua sendok kopi Kediri yang gurih itu, kutuang sesendok gula ke dalam gelas. Dalam pada itu, keempat kucing bercakap-cakap.

Darsono bersabda, “Kok nasinya rasanya lain ya?”

“Ya iya lah... masa' ya iya dong? Dari beras organik gitu loh. Liat aja warnanya merah,” Syukur tak mau kalah.

“Sok tau kamu. Emang semua beras yang merah udah pasti organik? Lagian ngapain Mbak Astrid ngempanin kita pake beras organik? Emang kita jadi pada bisa main organ?” bantah Jeanette.

Sabar bingung, “Lho? Emang makanan organik bisa bikin kucing jadi pemain organ?”

Jeanette menggurui, “Ah, telmi lu! Makanya jangan suka dengerin gosip. Dibo’ongin manusia mauuuuuk ajah!"
Aku tersenyum lalu menghirup kopi lezatku dan duduk bergabung. Siap bersantap. Pada suapan yang pertama aku mencecap rasa aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Rasa pedas yang aneh. Tapi aku terus mengunyah dan menelan nasiku. Tiba-tiba ada suara lembut.

“Yaaaah, Mbak Astrid. Aku kan lagi saur juga. Kok malah dimakan?”

Glek. Semut!

“Semut merah!!! Mereka sedang sahur dan sudah berniat puasa. Mereka tewas dalam ibadah. Mereka mujahidin. Aku menelan mujahidin! Akkkuuu merassaa kottooorrr!” aku histeris.

Kucing-kucing rakus itu memandangku sejenak, lalu kembali menjilati piring kaleng. Tak peduli pada perasaanku.

Semut-semut, aku tahu kalian akan mendapat tempat di surga. Tapi aku tetap merasa bersalah telah menghabisi kalian dengan cara begini. Meskipun kalian tahu aku tidak sengaja. Dan aku tahu ajal di tangan Tuhan. Aku tidak melihat kalian. Kalian merah. Nasiku merah. Lampu dapur putus. Aku malas membeli bohlam. Bukankah bersantap di bawah cahaya temaram lebih romantis. Ah, maafkan aku.

Jeanette yang sok membela hak perempuan protes, “Kok mujahidin sih, Mbak. Kali aja ada ceweknya juga. Jadi mujahidah dong?"

“Ya enggak lah. Di bahasa Perancis aja kalo bentuk jamak yang ada cowok dan ceweknya kan jadi ngikutin yang cowok. Ya tetap mujahidin lah,” Syukur yang gemar menonton acara pelajaran bahasa Perancis di TV tidak mau kalah.

Darsono unjuk gigi, “Ah, lu gak ngerti tata bahasa Arab aja sok tau. Makanya nonton Discovery Channel. Kan pernah dijelasin di sana. Semut yang cari makan itu yang jantan, tau? Yang betina tugasnya betelor, jagain sarang dan ngebagi2in makanan. Gitu! Gaul dunk jadi kucing!”

Syukur tidak membela diri “Boro-boro gaul. Gua mah gaptek. Waktu denger Mbak Astrid mau beli mouse aja gua pikir mau dibeliin sate tikus."

"Kucing yang aneh. Tenang, bro. Entar lu gua ajak beredar deh," Darsono mangkak.

Sabar menghibur Syukur, “Biarin ah, gaptek juga ngga pa-pa kok, Kur. Yang penting kan elo sabar, kayak gue.”

Aku makan dalam diam, tanpa selera. Maafkan aku, semut.

Jeanette kembali membuka front, “Tapi ini kan jamannya emansipasi. Kali aja ada semut cewek yang dibolehin orang tuanya buat jadi prajurit juga?”

“Ya, enggaklah. Tadi kan mereka pada lewat di bawah kacamata bacanya Eyang. Gue ngeliat jelas banget... semuanya pada pake gaya rambut Elvis Presley. Mana ada cewek jaman sekarang yang mau potong rambut gaya Elvis?

Kucing bodoh. Malam Kamis aku tidak akan mengundang mereka santap sahur lagi. Semoga aku segera ujian, dan bisa segera menyusul keluargaku ke Semarang. Mereka berempat akan kukembalikan pada Nenek. Ah, mengapa aku jadi sensitif berlebihan begini? Mungkin sebentar lagi haidku datang.

4 comments:

  1. I love the story very much. It's so imaginative!

    ReplyDelete
  2. huehehehehehe.. ceritanya lucu.. seru kalo bisa di visualisasikan..

    ReplyDelete