Monday, May 4, 2015

Menuju Pentas "The Magic of Gurindam Dua Belas" PART 1

TUGAS YANG MEMBINGUNGKAN

       Di bulan September 2014, Kantor memberi saya tugas menulis skenario drama musikal untuk dipentaskan di malam budaya di konferensi lima tahunan pada tanggal 29 April 2015 lalu. Saat menerima tugas saya merasa bersemangat dan tertantang. Maklumlah, beberapa tahun sudah lewat sejak kali terakhir saya membuat skenario untuk Kantor. Agar fokus. saya mundur sementara dari kegiatan mengajar. Sayangnya, dalam hitungan hari terjadi aneka perubahan keputusan super mendadak yang membuat otak serasa ditampar-tampar. 

capek deeeh...
       Tema yang semula akan diusung adalah gurindam dua belas, durasinya satu jam dan jumlah pemainnya sepuluh orang. Oke, saya mulai menulis. Lalu mendadak tema berubah jadi sejarah bahasa Indonesia yang dirunut sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, Raja Ali Haji, hingga Sumpah Pemuda, dengan durasi sembilan puluh menit. Baiklah, ini tantangan dan kesempatan untuk membuktikan bahwa penulis dari divisi kami  bukan kreator mental kerupuk yang langsung lemas saat tersiram air. Dan hasil perasan otak kami tidak bisa digusur oleh kehadiran buku-buku teks impor, enak saja! Maka saya menulis lagi. Cerita yang berbeda, tentu saja. 

RAPAT SUREALIS
 
       Lalu di suatu siang yang melelahkan pasca "sesi kursi listrik" di departemen kami General English Curricula and Materials, mendadak saya dipanggil untuk ikut rapat Panitia Konferensi. Di sana sudah ada Didik Nini Thowok penari kocak legendaris dan Adi Panuntun dari Sembilan Matahari, juara dunia Video Mapping 2014 di Moskow. Mendadak kepala saya pening. Di ruang rapat itu saya baru tahu bahwa pertunjukan ini nanti akan dilaksanakan besar-besaran, dengan mempekerjakan seniman-seniman besar, di Candi Prambanan yang tersohor. Mas Didik akan berperan sebagai sutradara, koreografer, penata busana, casting director dan menggarap musik serta produksi audio.  Mas Adi akan menggarap digital video mapping dalam pentas ini. Di bawah meja saya sempat menusuk telapak tangan dengan peniti, khawatir ini hanya salah satu mimpi gila saya. Sejujurnya saya bangga jika dapat bekerja sama dengan seniman sebesar mereka, tapi saya bertanya-tanya dalam hati: Benarkah sudah ada sponsor besar yang siap mendanai? Saya berdoa semoga ini bukan PHP.

     Maka saya mulai menulis cerita ketiga, dengan tenggat yang sama ketatnya dengan kedua cerita saya sebelumnya yang akhirnya tidak terpakai. Tidak apa-apa. Naskah selalu bisa didaur ulang, tidak akan basi seperti bubur ayam. Belasan jam saya habiskan setiap hari di depan komputer. Sangat banyak yang harus saya riset, termasuk denah Candi Prambanan. Maklumlah, seumur hidup saya belum pernah tahu seperti apa panggungnya.  Saya sedikit menyesal mengapa tak pernah tertarik jalan-jalan ke Prambanan. Padahal dua adik sepupu Ibu saya tinggal di Jogja. Ah, sudahlah. Menulis saja.

AUDISI YANG ABSURD
       Cerita ketiga selesai dan softcopy sudah saya serahkan. Apakah cerita saya diterima? Tidak. Jangankan diterima, dibaca dan dikomentari pun tidak. Di suatu sore yang muram, tiba-tiba saya disuruh ke auditorium, melihat audisi sebuah sanggar yang biasa pentas di TMII anjungan Kepulauan Riau. Saya heran. Sejak awal, setelah mempertimbangkan berbagai faktor, kami sudah sepakat bahwa pertunjukan ini nanti tidak live melainkan playback. Tapi pimpinan grup yang menampilkan lima tarian ini ternyata membawa pemusiknya sendiri dan ia ingin grupnya tampil live. Saya paham sekali idealisme pemusik yang harus selalu tampil live. Saya sendiri anggota storytelling band yang sedapat mungkin selalu menampilkan dongeng dengan musik hidup. Tapi bukankah sudah ada kesepakatan sebelum grup penari ini hadir? Saya sudah jelaskan, tidak mungkin memadukan pertunjukan live dengan playback, tapi di auditorium yang ramai itu, semua orang sibuk bicara sendiri. Seseorang bahkan bilang ah, penulis kan tinggal menjahit. Tinggal disambung saja dialog-dialog yang sudah ada dengan tari-tarian ini. Sumpah, dalam hati saya ingin sekali koprol sampai Manokwari dan tidak kembali lagi. Tak seorang pun mau mendengarkan saya. Saya justru disuruh riset (lagi) ke Gedung ASEAN, dan menyempalkan satu konten lagi ke dalam tulisan yang sudah sesak pesan itu, yaitu wacana menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN. Hello?!

       Selepas audisi kepala saya seperti dihantam truk molen. Didik Nini Thowok sudah punya tim penari/pemain sendiri sebanyak seratus orang. Mereka akan tampil playback dengan kostum gemebyar. Dan jangan dikira gampang membuat skenario untuk seratus orang. Meski tak semuanya berdialog, penulis skenario kan harus memikirkan peran untuk setiap pemain, bloking, dan detil lainnya. Plis deh. Sekarang tiba-tiba ada grup lain yang akan tampil bersama tim Didik, dengan iringan musik hidup dan kostum yang saya belum tahu. Ini tidak masuk akal. Saya merasa seperti koki yang dipaksa menghidangkan tahu tek campur chocolate fudge. Ini fusion ngawur sengawur-ngawurnya. Tapi saya mah apa atuh. Cuma penulis. Alih-alih mempertimbangakan masukan dari saya, mereka justru memberi saya tenggat untuk merevisi naskah. Lagi. Oke. Saya tulis. Nanti akan saya serahkan, dan setelah itu terserah mau diapakan naskahnya. Tapi plis. Sudah. Cukup sampai di sini. Elo, gue, end! Jangan seret saya ke dalam proyek ini lagi. 

       Softcopy terkirim. Lalu sudah. Beberapa minggu lewat tanpa ada apa-apa. Hidup saya kembali tenang: melakukan pekerjaan sehari-hari yaitu menulis test bersama teman-teman di Departemen GE. Saat tahun baru, saya iseng kirim Whatsapp pada Mas Didik, sambil bertanya sedikit tentang layout panggung. Jawaban yang saya dapat adalah met tahun baru juga, diskusi mendetil nanti saja setelah MOU ya. Oh, rupanya belum ada kontrak. Suatu hari saat sedang di toilet, saya mendengar beberapa rekan bergosip bahwa pertunjukan itu akan dibatalkan. Naskah saya tidak jadi dipakai. Hanya akan ada tari Melayu saja. Sabodo teuing lah aing mah. Sak karepmu. Tulisanku ora kanggo yo gak patheken. Saya menunggu mereka bubar baru keluar dari toilet. Saya memilih untuk pura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Hidup saya toh bukan hanya soal kantor ini saja. Alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti workshop penulisan cerpen di Kelas Kurcaci Pos dan workshop menulis cerita horor di Kelas Ajaib. Paling tidak saya bisa membuktikan pada diri sendiri, bahwa di luar sana, (barangkali) tulisan saya masih bisa bermanfaat.

HARAPAN YANG BERSEMI KEMBALI
 
Didik Nini Thowok and me
       Tiga setengah bulan setelah audisi absurd itu, di pertengahan Maret di suatu Kamis pagi yang cerah, satu pesan singkat masuk ke ponsel saya via Whatsapp.

      "Rat, kapan arep mrene? (Rat, kapan mau ke sini?) Kita tinggal punya lima minggu lagi lho untuk persiapan."
      Didik Nini Thowok!     
      "Hah? Siyos to, Mas?" (Jadi ya, Mas?)
      "Lho, piye to sing dhuwe gawe malah rak mudheng?" (Gimana sih yang punya hajat malah nggak ngerti?)

       Dan siangnya saya dapat perintah, lusa saya harus ke Jogja dengan penerbangan pertama. Di pesawat saya membaca kembali naskah terakhir yang saya serahkan. Jujur, saya sudah hampir lupa apa ceritanya. Tiga setengah bulan saya melanjutkan hidup dengan asumsi bahwa kegilaan ini sudah berakhir. Ternyata... Lalu saya mencoret-coret poin-poin apa saja yang harus dibahas dengan Mas Didik dan pimpinan di kantor cabang Jogja nanti, termasuk soal teknis sulih suara dan jadwal latihan. Saya gelisah seperti akan dilemparkan ke mulut naga.

Ms Erlina & Mas Didik
        Tak berapa lama setelah pesawat mendarat di bandara Adi Sucipto, ponsel yang saya nyalakan langsung berdering. Hello, Ratih. Welcome to Jogja. Kamu pake baju warna apa? Ternyata Ms Erlina (wakil kepala cabang) sendiri yang menjemput saya.Suaranya yang hangat dan familiar seketika meredakan degup gila di jantung saya. Saya menarik napas, menenangkan diri, dan membalas sapaan ramahnya. Alhamdulillah kami langsung klop, seperti tumbu ketemu tutup. Ms Erlina sangat renyah dan humoris, dan secara alamiah saja, saya memanggilnya Mbak, bukan Ibu. Bukan karena kurang hormat, tapi justru karena saya merasa amat sangat diterima.

Trio Jenang Gempol
       Di ruang rapat, Mas Didik sudah menunggu. Gosh, he's so professional. Di sana juga ada Ms Eko, salah satu penyelia di kantor cabang Jogja, yang sangat hangat dan bersemangat. Mas Didik dan Mbak Eko menyambut saya dengan senyum lebar yang tulus, memaklumi bahwa saya terlambat karena pesawat harus antri untuk mendarat. Tanpa banyak basa-basi, kami langsung mulai bekerja. Maklumlah, produksi yang semula akan disiapkan dalam lima bulan hanya akan dikerjakan dalam waktu lima minggu. Untuk mempersingkat waktu, hari pertama kami habiskan dengan merancang sceneplot babak pertama sampai ketiga, sambil mengaudisi calon pengisi suara.

kopi susu & roti di ruang rapat
       Kami harus melakukan revisi mayor pada alur di setiap babak agar sinkron dengan keinginan produser dan sponsor, serta dengan ketersediaan lagu, pemain, kostum dan properti. Tokoh utama yang semula terdiri atas tiga orang guru muda, dijadikan dua orang saja. Itu, dan lain-lain. Lelah? Tentu. Bahagia, lega, bersyukur? Pasti. Betapa tidak, pimpinan di kantor cabang Jogja dan Mas Didik sendiri ternyata sangat terbuka, rendah hati, humoris, dan sangat enak diajak bekerja sama. Saya juga senang karena grup Mas Didik tidak jadi dicampur dengan grup seniman dari TMII itu. Jangan salah sangka. Saya tidak apriori pada mereka atau apa. Hanya saja menurut saya, menyatukan dua paguyuban seni dalam satu panggung itu seperti menikahkan janda dan duda yang masing-masing membawa banyak anak, tidak mungkin dilakukan secara fait accompli.

         Siang menjelang sore, Mas Didik pergi menjumpai Dubes India. Saya, Ms Erlina dan Ms Eko tetap di ruang rapat. Sementara saya mulai menulis skenario, mereka berdua melakukan koordinasi dengan panitia dari Jakarta, sambil mengumpulkan beberapa guru yang akan menjadi pengisi suara: Ms Yulita, Ms Stephie, Mr Ipoek, Mr Abdyan, Mr Tarigan. Setelah Mas Didik kembali, kami melaksanakan sesi paralel. Mas Didik mengaudisi para penari di ruang sebelah, sementara saya mengaudisi guru-guru yang datang satu per satu ke ruang rapat. Setelah itu Ketua Panitia konferensi dan pihak EO datang membawa surat kontrak dan Mas Didik langsung diminta menandatangani surat itu. Fiuh... Lega! Akhirnya MOU ditandatangani juga.

Prambanan menjelang senja
        Senja itu, Ms Erlina membawa saya ke Candi Prambanan untuk merasakan panggung dan backstage area. Alhamdulillah, semua sudah terbayang di pelupuk mata: siapa keluar dari mana, ke mana pemain harus bergerak, di mana harus berdiri, duduk, dll. Malamnya, di kamar yang temaram (inilah saat di mana saya sangat merindukan lampu neon) ditemani tiga cangkir kopi, saya melanjutkan penulisan skenario sambil mencuri start merapikan sceneplot babak empat dan lima.

jenang gempol dari Bantul
        Keesokan paginya saya langsung check out. Mbak Erlina datang menjemput dan kami segera berkumpul kembali di ruang rapat, melanjutkan pekerjaan. Alhamdulillah sceneplot bayangan  untuk babak empat dan lima bisa dengan mudah diterima oleh Mas Didik, Mbak Erlina dan Mbak Eko. Di sela-sela diskusi, saya melanjutkan penulisan; Mas Didik menelepon ke sana ke mari untuk mengurus musik, kostum, pemain, dan properti; sedangkan Mbak Erlina dan Mbak Eko melakukan koordinasi dengan pihak Prambanan dan dengan panitia dari Jakarta. Saya terus menulis, sambil berdoa semoga di Jakarta nanti saya bisa segera meneruskan dan menyelesaikannya dalam waktu dua hari. Kami bekerja dengan lebih lancar, gembira dan makin bersemangat, apalagi sambil menikmati jenang khas Bantul diiringi langgam Banyumasan. Asyik...  Well, to be frank "jenang gempol" was a bit too sweet for my tastebud but when you're in a great mood, it doesn't matter.  Siangnya sebelum menuju bandara, kami dijamu Mas Didik di restorannya yang diberi nama Anglo Desa. Kalau sempat ke Jogja, mampir deh ke sana. Cicipi aneka jus segar yang tidak terlalu manis, dan aneka makanan lezat.

No comments:

Post a Comment