Friday, February 13, 2009

SEJARAH KAMPRET

Gua menyebut diri penulis oplosan, atau penulis gadungan, karena gua bukan penulis yang terbiasa menulis sejak usia belia.

Di awal karir gue sebagai guru Bahasa Inggris di LIA, gue hanya menulis karena harus mengajar. Jadi yang gue tulis hanya seputar rencana ajar (lesson plan) dan bacaan untuk latihan sebagai pelengkap materi yang sudah ada di buku. Itu saja.

Di tahun keempat, tiba-tiba pihak manajemen mengeluarkan kuesioner untuk diisi oleh para siswa, yang isinya terasa begitu menghina dan melecehkan profesi guru. Dalam perjalanan menuju rumah Ibu Warsiki, dari belakang setir VW kombi, gue membanyol dan balas melecehkan kuesioner konyol itu beserta para perumusnya. Sepanjang jalan, gue berhasil bikin para penumpang setia gue terpingkal-pingkal sampe kluar air mata.

Puas gue.

Di rumah Bu Warsiki kami makan-makan, melihat-lihat album foto, bertukar canda dan cerita hingga sang malam datang bersama kantuk.

Sesampainya di rumah badan gue cape, tapi hati mulai gelisah. Semua kerjaan murid udah gue periksa. Acara TV jelek-jelek. Trus gue mo ngapain? Akhirnya gue ambil kertas dan bolpen, dan mulai menulis skenario operet berdasarkan banyolan gue yang di mobil tadi. Waktu itu gue belom bisa pake kompi (kebayang kan gimana gapteknya gue?). Ngetik sih bisa, alhamdulillah 10 jari, tapi mesin tik lagi rusak.

Hmm... jadi juga. Judulnya Jeritan Hati. (Maaf gak bisa di-post karena udah ilang. Rekamannya di handycam juga udah ancur. Gw nyesel juga siy, knapa gak disimpen baek2?) Durasinya cuma 20 menit. Lumayan. Gak repot nanti ngapalinnya. Ngapalin? Emang sapa yang harus ngapalin? Emang sapa yang mau main?

Besoknya di sela-sela jadwal ngajar gue mulai lirak-lirik kanan-kiri. Satu-satu gue tumbalin. Srisna, Devina, Uri, Kenny, Gandi, Widy, Frita, gue punya naskah neh. Mau gak main? Buat lucu-lucuan aja.

"Asik nih. Coba aja kumpulin orang."
"Coba liat... Hihihiiii... boleh!"
"Kenapa enggak? Gw lagi butuh refreshing."

Yes!!!

Akhirnya tu naskah difotokopi sebanyak para "tumbal", dan gue kumpulin mereka di lantai 6, kebetulan ada kelas kosong. Yak, reading dimulai. Alhamdulillah semua pada tergeli-geli. Isinya sederhana aja kok. Menertawakan diri sendiri. Korbannya bukan cuma para petinggi LIA, tapi juga guru-guru yang sok galak, satpam yang sok serem, sampe OB yang suka berantem lempar-lemparan kerjaan.

Tuh naskah sempet diedit ama Branch Manager (waktu itu masih Bu Audrey Widjaja) dan hampir gak boleh dipentasin. Tapi alhamdulillah, setelah diedit sana-sini, jadi juga.

Pas bel keluar buat istirahat ngajar, temen Bali gue yang bernama Endra Datta langsung nongol di pintu kelas gue, mendaulat buat nyari kord dan latian lagu2nya di audit. Biar lancar pas latian katanya. Seru juga.

Akhirnya Baginda Ratu Ratih berkenan mengumpulkan rakyatnya untuk latian di audit. Dengan segala macem action dan blocking tu cerita ternyata durasinya nyampe 25 menit. Bagus lah. Gak pendek2 amat. Trus minggu depannya mulai deh latian-latian. Karena ngapalin naskah ternyata bukan kerjaan gampang (ngajar Bahasa Inggris jauuuuh lebih gampang), kita putusin bikin lypsinc aja (meskipun akhirnya semua apal, kecuali gue!).

Hari-H pementasan yang dilaksanakan pada acara class assignment ("penobatan" buat guru-guru baru + rapat evaluasi dan pembagian kelas) adalah hari terindah dalam hidup gue. Suka banget gue ngeliat orang-orang dalam cerita gue jadi idup di panggung. Ada keharuan tersendiri waktu penontong ketawa histeris pas Kenny dan Widy duduk mesra punggung-punggungan dan menyanyikan versi plesetan "Bila Kuingat"nya Lingua yang liriknya gw rombak jadi nyerocos soal pengaruh krismon terhadap biaya fotokopi . Trus juga Bu Lies Kuncoro en Bu Yudi, guru-guru senior yang gue bikin make a fool out of themselves. Tapi yang paling nendang adalah penampilan Gandi, karena dia terkenal sebagai guru yang sangat serius dan sedikit bicara, tapi di panggung gua sihir dia jadi sinting, dan ternyata jadinya jauh lebih sinting. Asik. Salah satu guru baru bernama Hening Rahadianto bahkan menghampiri gue, kenalan, dan minta diajak main di pementasan berikutnya. Duh...

Selanjutnya bisa ditebak, kalo ada acara-acara di LIA, gue disuruh ngisi acara dengan kelompok guru-guru gila yang menyebut dirinya Kampret (Kami Pramuka English Teachers). Banyak banget kenangan manis yang tersimpan di memori gue soal Kampret: Acil dan Fia yang selalu membuat panggung kliatan keren dan cantik; Fia dan Nunik yang setia ngedandanin para pemain, Sherly yang gak pernah kapok bikinin koreografi; juga para pemusik cabutan--Endra, Dwi Hendro, Gandi, dan Tony; Pak Kur yang karena baby face-nya bolak-balik didapuk jadi anak SMA (padahal dia supervisor!), Bu Jami dan Marni yang jerit histerisnya membahana, pokoknya buanyaaaak...

Tahun-tahun berlalu, dan sejak gue jadi penulis penuh waktu di Subdit Kurikulum, Materi & Tes, jarak dan ruang memisahkan kami. Gue bahkan udah gak ngajar di Pramuka lagi. Tapi kenangan manis itu akan terus tersimpan di satu bilik khusus di dalam hati gue, yang kuncinya hanya dimiliki oleh para Kampretters yang pernah menikmati rentetan kegilaan bersama gue.


Terima kasih, Kampret...
Untuk kesadaran bahwa ternyata aku bisa menulis.
Untuk batu loncatan menjadi penulis lepas untuk Citra Studio, penulis tetap di Subdit Kurimat (meskipun di sana lahir-batinku lelah tapi otakku terasah), penulis komik serial di majalah C'nS Junior.
Terima kasih atas makna arti kata perjuangan, harapan, dan kemungkinan.
Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta pada penulisan skenario.

My dearest fellow Kampretters, I miss the good old days...
I love you guys so much and will always treasure every single moment we spent together behind and on stage.
Thank you for letting me have the journey to discover my true calling.
I hope someday, someway, somehow, we'll be able to work together again.

No comments:

Post a Comment